
Google kembali menghadirkan elemen desain ikonik ke dalam perangkat laptop terbarunya melalui Googlebook Glowbar. Fitur yang dimaksud adalah bilah lampu di bagian atas penutup layar, yang dulu menjadi ciri khas Chromebook Pixel keluaran tahun 2013.
Sayangnya, implementasi fitur ini pada model terbaru terasa kurang maksimal dibandingkan pendahulunya. Pengguna kini kehilangan fungsi unik yang sempat digemari banyak orang, yaitu gestur ketukan atau knock-knock.
Sebagai kilas balik, Chromebook Pixel dirilis pada 2013 sebagai pionir perangkat keras berbasis ChromeOS. Perangkat tersebut dikenal memiliki desain yang memukau pada masanya, meskipun harus menghadapi kritik tajam terkait layar yang buruk dan harga yang sangat mahal, yakni mencapai USD 1.299 (sekitar Rp20,4 juta).
Dua tahun kemudian, Google merilis suksesor Chromebook Pixel 2015 dengan berbagai pembaruan perangkat keras yang signifikan. Keduanya mempertahankan fitur bilah lampu empat warna yang merepresentasikan logo Google serta Chrome.
Pada model lawas tersebut, bilah lampu tidak hanya berfungsi sebagai pemanis estetika. Fitur ini memiliki kegunaan praktis saat pengguna ingin mengecek status baterai laptop secara cepat.
Pengguna cukup melakukan dua ketukan ringan pada bagian penutup laptop untuk mengaktifkan indikator baterai. Fitur ini sangat membantu pada masa ketika daya tahan baterai laptop belum seprima perangkat modern saat ini, karena pengguna tidak perlu repot membuka layar untuk sekadar melihat persentase daya.
Kini, fitur ketukan tersebut sepenuhnya dihilangkan pada Googlebook Glowbar. Perangkat baru ini memang masih menyalakan lampu saat terhubung dengan daya, namun kehilangan interaksi fisik yang sempat memikat hati para penggemar teknologi.
Lantas, apa saja kemampuan Glowbar saat ini? Fungsi utamanya masih terbatas pada indikator pengisian daya dan animasi singkat saat layar ditutup.
Google juga mencoba mengintegrasikan Glowbar dengan Gemini, asisten kecerdasan buatan mereka. Namun, banyak pihak meragukan kegunaan fitur tersebut karena posisi Glowbar yang berada di belakang layar, sehingga sulit terlihat oleh pengguna saat bekerja.
Secara keseluruhan, kehadiran kembali elemen desain ini memang membawa nostalgia bagi pengguna setia ekosistem Google. Namun, hilangnya fitur fungsional membuat pembaruan ini terkesan seperti cangkang tanpa jiwa dari apa yang pernah ada sebelumnya.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran fokus Google dalam mendesain perangkat keras di masa depan. Mereka tampaknya lebih mengutamakan integrasi perangkat lunak berbasis AI dibandingkan fungsi fisik yang sebelumnya menjadi pembeda utama produk mereka di pasar laptop premium.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor