Harga Minyak Dunia Kembali ke Level Sebelum Perang Iran Pecah

Harga minyak dunia mencatatkan penurunan signifikan hingga kembali ke level sebelum pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Iran. Penurunan ini dipicu oleh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang mulai kembali beroperasi secara bertahap setelah sempat lumpuh akibat konflik.
Patokan harga minyak mentah Brent sempat menyentuh angka USD 72,48 (sekitar Rp1,17 juta) per barel. Angka ini merupakan harga terakhir sebelum AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari silam.
Kenaikan volume lalu lintas maritim terjadi pasca penandatanganan Nota Kesepahaman (MOU) antara AS dan Iran pada 17 Juni. Perjanjian tersebut mencakup periode negosiasi selama 60 hari terkait program nuklir Iran guna meredam eskalasi perang.
Data dari firma intelijen maritim Kpler menunjukkan peningkatan drastis jumlah kapal yang melintasi jalur krusial tersebut. Kapal-kapal yang melintas membawa berbagai komoditas mulai dari minyak mentah, gas alam cair (LNG), hingga pupuk.
Sebagai upaya preventif, mediator dari Qatar dan Pakistan mengonfirmasi pembentukan saluran komunikasi khusus antara AS dan Iran. Tujuannya guna memastikan keamanan pelayaran komersial agar tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan.
Meskipun demikian, aktivitas di Selat Hormuz belum kembali ke kondisi normal sepenuhnya. Tercatat lebih dari 100 kapal biasanya melintasi jalur ini setiap hari sebelum konflik terjadi.
Presiden AS Donald Trump kini menyoroti harga bahan bakar di tingkat konsumen yang dianggap masih terlalu tinggi. Ia memerintahkan penyelidikan terhadap perusahaan energi besar atas dugaan menahan penurunan harga jual meski biaya produksi minyak telah menyusut.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor









