Harga Minyak Dunia Tembus USD 111 Saat Saham Teknologi Alami Tekanan Jual

Harga minyak mentah Brent mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 2,6 persen menjadi USD 111,66 per barel (sekitar Rp1,75 juta) pada perdagangan Kamis waktu setempat.
Kenaikan harga ini mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir, sebuah fenomena yang memicu kecemasan di pasar keuangan global.
Situasi di bursa saham Amerika Serikat juga tidak jauh berbeda. Indeks Nasdaq terkoreksi 1,5 persen, sementara S&P 500 kehilangan 0,8 persen nilai pasar setelah sektor teknologi memimpin penurunan.
Saham Nvidia, yang saat ini memegang predikat sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Amerika Serikat, melemah sebesar 2,3 persen. Koreksi tajam pada saham ini memberikan dampak langsung bagi dana pensiun yang banyak berinvestasi pada indeks S&P 500.
Kenaikan harga bahan bakar sebesar 9,1 persen selama September mempertegas bahwa guncangan harga minyak tidak hanya dirasakan pelaku pasar modal. Konsumen mulai merasakan dampak langsung melalui harga di stasiun pengisian bahan bakar.
Tekanan jual juga melanda bursa saham Asia secara masif. Indeks Kospi di Korea Selatan jatuh 3,52 persen ke posisi 5.533,77, menyusul pelemahan serupa pada indeks Nikkei 225 di Jepang sebesar 2,65 persen dan Hang Seng di Hong Kong sebesar 3,03 persen.
Indeks CSI 300 di China bahkan secara resmi memasuki fase pasar bearish. Istilah ini merujuk pada penurunan harga saham lebih dari 20 persen dari titik puncak sebelumnya, yang mencerminkan pesimisme investor terhadap prospek ekonomi dalam waktu dekat.
Kondisi pasar Korea Selatan sempat mengalami turbulensi hebat pada 15 Oktober lalu yang dikenal sebagai Kamis Hitam. Saat itu, indeks Kospi anjlok 7,57 persen, memicu mekanisme penghentian perdagangan otomatis atau circuit breaker untuk meredam kepanikan investor.
Sentimen negatif juga menimpa perusahaan berbasis kecerdasan buatan atau AI. CoreWeave melemah 3,8 persen akibat kekhawatiran terkait beban utang perusahaan, sementara Meta turun 5,8 persen setelah laporan laba perusahaan meleset dari ekspektasi pasar.
Ken Griffin, pendiri firma investasi Citadel, menilai pasar saat ini berada dalam gelembung AI. Ia membandingkan chip AI dengan kursi pesawat yang murah dioperasikan setelah dibeli, sehingga harga bisa anjlok kapan saja ketika penawaran melebihi permintaan.
Pasar kini menanti keputusan kebijakan moneter Federal Reserve pada 28 Oktober. Analis memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 15 persen, dengan potensi pengetatan lebih lanjut pada bulan Desember mendatang.
Kenaikan suku bunga menjadi momok bagi pasar karena meningkatkan biaya investasi bagi korporasi. Investor kini menunggu rilis data inflasi PCE Inti pada 29 Oktober dan laporan data penggajian tenaga kerja AS pada 6 November untuk menentukan langkah selanjutnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor












