IHSG dan Rupiah Melemah Tajam, Dana Asing Kabur Rp68 Triliun

Pasar keuangan Indonesia mengalami guncangan hebat pada perdagangan Kamis (4/6/2026) setelah IHSG dan rupiah melemah secara bersamaan secara drastis. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup merosot 1,70 persen ke level 5.839,78 setelah sempat anjlok lebih dari 5 persen pada sesi pagi. Sementara itu, nilai tukar rupiah menembus rekor terendah baru melampaui Rp18.000 per dollar AS.
Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp1,43 triliun dalam satu hari perdagangan saja. Tekanan jual tersebut menggenapi akumulasi aliran modal keluar dari pasar saham domestik hingga mencapai Rp68,5 triliun sepanjang tahun berjalan. Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pelarian modal skala besar ini menjadi penekan utama pasar keuangan.
Kepanikan pasar sempat diperparah oleh rumor penurunan status klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Hendra memastikan kabar penurunan kelas menjadi frontier market tersebut sepenuhnya keliru. "Berdasarkan metodologi resmi MSCI terbaru, posisi Indonesia hingga saat ini masih kokoh di dalam kelompok emerging market," tutur Hendra.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi suku bunga tinggi dari bank sentral Amerika Serikat ikut memperburuk sentimen eksternal. Di sisi lain, para pelaku pasar juga terus mencermati risiko domestik terkait keberlanjutan program pemerintah dan kesehatan APBN. Ketidakpastian arah kebijakan membuat investor global memilih memindahkan portofolio mereka ke aset yang lebih aman.
Peluang terjadinya rebound teknikal untuk indeks saham domestik masih terbuka pada akhir pekan. IHSG berpotensi bergerak menuju level resisten 5.941 jika mampu bertahan di atas batas bawah psikologis 5.644. Namun, penguatan tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara sebelum ada kepastian stabilisasi kurs dan kembalinya aliran modal asing.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor







