IHSG Melemah ke Level 6.541, Aliran Modal Asing Keluar Jadi Pemicu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan ke level 6.541,38 pada akhir pekan perdagangan Jumat (11/9/2026). Penurunan IHSG hari ini didorong oleh aksi jual bersih investor asing serta bayang-bayang kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks acuan nasional tersebut merosot sebesar 0,73 persen atau kehilangan 47,96 poin hanya dalam satu hari perdagangan.
Sepanjang pekan lalu, kinerja pasar modal domestik memang menunjukkan tren yang kurang menggembirakan dengan akumulasi pelemahan mencapai 1,43 persen. Koreksi ini terjadi setelah indeks bergerak di zona merah selama empat hari kerja dari total lima hari perdagangan. Akibatnya, nilai kapitalisasi pasar bursa ikut menyusut sebesar 1,32 persen menjadi Rp11.446 triliun dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di angka Rp11.599 triliun.
Aktivitas transaksi di lantai bursa juga tampak lesu dengan penurunan rata-rata nilai transaksi harian sebesar 14,88 persen menjadi Rp16,36 triliun. Penurunan ini sejalan dengan volume perdagangan harian yang anjlok hingga 26,34 persen menjadi 36,09 miiar lembar saham.
Secara kumulatif, kemerosotan indeks sejak awal tahun ini telah menyentuh angka yang cukup dalam, yaitu sebesar 24,35 persen.
Tekanan jual yang masif pada hari Jumat terutama berasal dari investor asing yang mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp690,19 miliar di seluruh pasar. Tekanan ini berimbas langsung pada kinerja sektoral dengan rontoknya sepuluh dari sebelas sektor saham di bursa. Sektor konsumsi primer memimpin kejatuhan sebesar 1,25 persen, sedangkan sektor kesehatan menjadi satu-satunya penyelamat dengan kenaikan sebesar 3,91 persen.
Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Elsierra Putri Yosita, memaparkan rincian mengenai pergerakan dana asing yang keluar dari pasar modal domestik. Ia menjelaskan bahwa total aksi jual bersih sepanjang tahun 2026 kini telah menembus angka Rp71,415 triliun.
Menghadapi pekan depan, para pelaku pasar harus bersiap mengantisipasi potensi fluktuasi indeks yang masih tinggi.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memproyeksikan bahwa IHSG akan bergerak pada rentang batas bawah di level 6.478 dan batas atas di level 6.600. Pergerakan ini akan sangat dipengaruhi oleh rilis data inflasi di Amerika Serikat dan fluktuasi harga minyak dunia. Ia menambahkan bahwa peluang bank sentral AS atau Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026 kini meningkat menjadi 87 persen, sebuah kondisi yang biasanya direspons negatif oleh pasar berkembang.
Senada dengan pandangan tersebut, Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan pasar saham masih akan dibayangi oleh arah kebijakan moneter ketat di Washington. Menurutnya, pergerakan indeks pekan depan memiliki peluang menguat namun dalam rentang yang sangat terbatas.
"Sentimen utama yang akan dicermati para pelaku pasar adalah pertemuan komite kebijakan moneter AS yang diperkirakan masih bersikap agresif menyusul kenaikan harga energi," ujar Herditya.
Di tengah lesunya indeks, beberapa emiten justru menunjukkan optimisme tinggi dengan terus mendorong rencana ekspansi bisnis mereka. Salah satunya adalah PT Timah Tbk dengan kode saham TINS yang menargetkan lonjakan produksi timah hingga 30.000 ton untuk mendongkrak kinerja ekspor. Sementara itu, PT Radiant Utama Interinsco Tbk atau RUIS memilih mendiversifikasi portofolio usahanya ke sektor energi baru terbarukan guna menangkap peluang transisi energi hijau.
Langkah ekspansif juga diambil oleh PT Nexai Digital Infrastruktur Tbk yang berencana menggelar hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue senilai Rp2,54 triliun. Perusahaan berkode saham MGLV ini akan mengalokasikan seluruh dana segar tersebut untuk mendanai pembangunan infrastruktur pusat data baru.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)













