
Penyebaran penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk kini menjadi tantangan global yang semakin mendesak. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lonjakan kasus demam berdarah yang signifikan, meningkat dari 6,5 juta kasus pada 2023 menjadi 14,6 juta kasus sepanjang 2024.
Perubahan pola curah hujan dan peningkatan suhu global menjadi faktor pemicu utama perluasan habitat nyamuk ke wilayah baru. Menanggapi ancaman ini, perusahaan rintisan bernama Mosqitter mengembangkan solusi teknologi yang melampaui metode pembasmian konvensional.
Perusahaan yang berbasis di Pennsylvania ini menciptakan perangkat tanpa bahan kimia yang bekerja dengan cara meniru aroma, panas, dan pola pernapasan manusia. Cara ini efektif memancing nyamuk betina yang sedang mencari mangsa untuk bertelur.
CEO dan pendiri Mosqitter, Anastasiia Romanova, menjelaskan bahwa mereka menangkap nyamuk betina tepat sebelum fase bertelur. Metode ini diklaim mampu memutus siklus reproduksi nyamuk secara lebih berkelanjutan dibandingkan penggunaan pestisida.
Kini, Mosqitter melangkah lebih jauh dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan atau AI ke dalam sistem perangkap mereka. Teknologi ini mampu mengidentifikasi spesies nyamuk secara spesifik melalui sistem penglihatan komputer atau computer vision.
Sistem tersebut bekerja dengan memindai gambar nyamuk yang terperangkap lalu membandingkannya dengan kumpulan data entomologi. Hasilnya, perusahaan dapat memberikan peringatan dini mengenai potensi risiko penyakit di area tertentu berdasarkan kehadiran spesies nyamuk pembawa virus.
Produk utama mereka terdiri dari dua jenis perangkat, yakni Mosqitter Grand untuk area publik dan Mosqitter Mini untuk hunian pribadi. Harga untuk tipe Mini dipatok USD 199 atau sekitar Rp3,1 juta, sementara model Grand dijual seharga USD 1.999 atau sekitar Rp31,5 juta.
Inovasi terbaru yang akan diluncurkan bulan depan adalah sistem pemantauan bernama Febris. Layanan ini menyasar pemerintah dan lembaga kesehatan sebagai pengolah data untuk memantau populasi nyamuk secara berkelanjutan.
Romanova menegaskan bahwa Febris tidak berfungsi mendiagnosis penyakit secara langsung. Alat ini memberikan data krusial mengenai keberadaan spesies nyamuk tertentu yang menjadi indikator peningkatan risiko penyebaran virus di suatu wilayah.
Strategi ekspansi perusahaan saat ini mencakup pasar global termasuk Brasil, Amerika Serikat, hingga Yunani. Mereka bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari operator bandara hingga perusahaan pengendalian hama profesional.
Secara finansial, perusahaan menargetkan pendapatan lebih dari USD 1 juta atau sekitar Rp15,7 miliar pada 2026. Data dari sistem Febris diproyeksikan menjadi sumber pendapatan besar bagi perusahaan di masa depan.
Saat ini, Mosqitter tengah menggalang pendanaan sebesar USD 5 juta atau sekitar Rp78,8 miliar guna mendukung pengembangan teknologi pemantauan tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat posisi mereka dalam pasar global data kesehatan publik.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor