Jika Kamu Masih Memilih Orang yang Terus Menyakitimu, Biarkan Skenario Tuhan yang Mengambil Alih Sisanya

Kamu baru saja meletakkan ponsel, tapi dadamu masih terasa sesak.
Dia datang lagi dengan permintaan maaf yang sama, dan seperti biasa, kamu membukakan pintu lagi tanpa banyak tanya. Kamu tahu betul rasanya hancur berkali-kali karena orang yang sama, tapi entah kenapa kamu belum bisa berhenti.
Rasanya aneh ya, sudah tahu api itu panas, tapi kamu tetap ingin mendekat hanya karena butuh kehangatannya sebentar saja. Kamu nggak sendirian kalau merasa bingung dengan pilihanmu sendiri, karena perasaan memang nggak pernah punya logika yang rapi. Kita seringkali lebih takut kehilangan kehadirannya daripada kehilangan ketenangan diri kita sendiri yang sebenarnya jauh lebih berharga.
Kamu Nggak Bodoh, Kamu Sayang
Teman-temanmu mungkin sudah bosan menasihati hal yang sama setiap hari.
Mereka bilang kamu harus segera pergi, kamu harus sadar, dan kamu pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari dia. Tapi mereka nggak pernah tahu rasanya jadi kamu yang masih melihat secercah harapan di balik semua luka yang dia berikan secara cuma-cuma.
Memang melelahkan kalau harus terus-terusan menjelaskan kepada orang lain kenapa kamu masih bertahan pada orang yang berkali-kali mengecewakanmu. Terkadang kamu sendiri pun nggak punya jawaban yang masuk akal, selain karena hatimu memang belum mau menyerah saat ini juga. Kamu cuma butuh waktu untuk benar-benar sampai di titik di mana rasa sakitnya jauh lebih besar daripada rasa ingin memilikinya.
Titik Lelah yang Menenangkan
Pasrah itu bukan berarti kamu kalah atau menyerah begitu saja.
Ada saatnya kita harus berhenti berusaha mengontrol segala hal, termasuk mengontrol perasaan yang seringkali sangat keras kepala ini. Kalau memang dia yang terus dipilih oleh hatimu meski sudah disakiti, mungkin ada sesuatu yang ingin semesta sampaikan padamu lewat cara yang pahit.
Biarkan saja skenario Tuhan yang berjalan sekarang, entah itu untuk menyatukan kalian dalam versi yang lebih baik atau justru untuk mematahkan hatimu sampai tuntas. Kita nggak pernah benar-benar tahu mana yang terbaik untuk masa depan sampai kita menjalaninya sampai akhir tanpa paksaan. Mungkin ini adalah cara semesta membentukmu menjadi pribadi yang jauh lebih tangguh dan bijaksana dari sebelumnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor
















