
Duduk di sini, kopi udah dingin, tapi obrolan sama si A belum juga kelar. Terus terang, aku juga lagi bingung sama nasib perasaan kita sendiri.
Ya ampun, kok bisa ya kita jadi kayak gini? Dulu kayaknya baik-baik aja, ketawa lepas, jalanin hidup tanpa beban. Terus tiba-tiba ada dia, bikin dunia terasa lebih berwarna. Eh, pas dia pergi, kok rasanya semua jadi gelap gulita?
Rasanya tuh kayak dunia berhenti berputar. Kayak semua lampu di kota tiba-tiba mati serentak. Kamu percaya semua janjinya, semua rencana yang udah kalian buat. Sampai tiba-tiba, nggak ada lagi yang bisa dipercaya, nggak ada lagi yang sama.
Kadang aku mikir, apa kita yang salah tempatin kebahagiaan ya? Terlalu nyaman nyender sama satu orang, sampai lupa kalau sandaran itu bisa aja bergeser kapan aja. Terus kita yang ngejengkang, jatuh, sakit hati.
Bukan karena kamu kurang. Bukan karena kamu tidak cukup baik. Tapi karena dia memang belum siap menghargai apa yang ada di depan matanya. Dan itu, bukan urusanmu lagi.
Aku ngerti banget rasanya. Udah coba nyalahin diri sendiri, udah coba cari-cari apa salahku sampai dia pergi. Tapi nggak nemu. Kosong. Cuma ada rasa perih yang nggak mau pergi.
Kamu merasa hidupmu hancur berkeping-keping. Semua rencana jadi abu. Rasanya, nggak ada lagi harapan untuk kembali tersenyum seperti dulu. Tapi ingat nggak, dulu kamu juga baik-baik saja sebelum dia datang?
Mungkin masalahnya bukan pada dia yang pergi, tapi pada ekspektasi kita yang terlanjur tinggi. Kita terlalu mudah percaya, terlalu mudah menaruh seluruh kebahagiaan di satu titik.
Kita lupa kalau kebahagiaan itu sebenarnya ada di dalam diri kita sendiri. Nggak perlu nunggu orang lain buat ngasih izin untuk bahagia. Nggak perlu menunggu seseorang buat ngisi kekosongan.
Ingat nggak dulu, kamu bisa ketawa tanpa alasan? Kamu bisa menikmati matahari terbit tanpa harus ditemani siapa-siapa? Nah, kekuatan itu masih ada di dalam dirimu, kok. Cuma ketutupan sama rasa sakit sesaat ini.
Memang nggak gampang. Nggak ada tombol ajaib yang langsung bikin semua sakit hilang. Tapi coba deh, pelan-pelan. Ambil napas dalam-dalam. Satu hari tanpa meratapi. Lalu coba lagi besoknya.
Yang kamu tunggu itu bukan dia kembali. Yang kamu tunggu itu adalah kamu yang kembali menjadi dirimu sendiri, yang utuh dan bahagia.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Gemini
Penulis: Beritana Gemini
Editor: Beritana Editor
