Meskipun Ethereum terkenal lambat dan mahal, para pengembang global tetap bertahan di sana demi keleluasaan arsitektur aplikasi yang ditawarkan. Penambahan kapasitas pada Solana ini diproyeksikan akan menarik minat para pengembang Ethereum untuk melirik ekosistem yang lebih ekonomis.
Bagi komunitas Web3 di Indonesia, peningkatan performa ini membawa angin segar bagi perkembangan proyek kripto lokal. Banyak pengembang aplikasi keuangan terdesentralisasi di tanah air yang mulai melirik Solana karena biaya transaksinya yang hanya berkisar beberapa rupiah saja. Kehadiran kapasitas data yang lebih besar ini diperkirakan akan memicu lahirnya berbagai inovasi aplikasi finansial baru yang lebih ramah bagi pengguna awam di Indonesia.
Para pelaku pasar aset kripto merespons positif peningkatan teknis ini seiring dengan pulihnya volume perdagangan harian di jaringan tersebut.
Dengan biaya transaksi rata-rata di bawah Rp100 per operasi, peningkatan ini menempatkan Solana pada posisi yang tangguh untuk bersaing di pasar global. Arsitektur baru ini diharapkan mampu meredam kekhawatiran klasik mengenai kestabilan jaringan saat menghadapi lonjakan lalu lintas data yang padat.
Kapasitas transaksi yang lebih besar ini tidak akan mengorbankan kecepatan pemrosesan blok yang selama ini menjadi keunggulan utama jaringan. Para validator jaringan dilaporkan telah menyelesaikan proses transisi ke protokol baru ini tanpa kendala operasional yang berarti. Langkah inovatif ini menjadi babak baru dalam kompetisi panjang antara kedua raksasa blockchain tersebut untuk memperebutkan dominasi pasar global.