Kelahiran Tiga Harimau Sumatra di Yunani Beri Harapan Baru Konservasi

Tiga anak harimau sumatra lahir di Attica Zoological Park, kebun binatang dekat Athena, Yunani, sebagai bagian dari program global menjaga populasi cadangan satwa terancam punah tersebut.
Kelahiran harimau sumatra di Yunani ini terjadi pada Juli 2026 dari induk betina bernama Toba dan pejantan Argos yang telah mati. Ketiga anak predator bergaris ini dinamai berdasarkan nama karakter dalam karya sastra Yunani kuno, The Odyssey.
Memasuki usia dua bulan, ketiganya mulai mendapatkan perawatan medis dasar dari tim dokter hewan setempat. Dokter hewan kebun binatang dan satwa liar, Dr. Arsenoi Psaroudaki, menjelaskan bahwa prosedur awal ini meliputi pemberian vaksin pertama serta pemasangan chip identifikasi elektronik. Langkah medis tersebut bertujuan memantau kondisi kesehatan satwa sekaligus mempermudah proses pencatatan silsilah genetik mereka.
"Prosedur tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan sekaligus memudahkan identifikasi masing-masing satwa," ujar Psaroudaki kepada Associated Press.
Kehadiran tiga anak harimau baru ini diharapkan memperkuat program populasi pengaman di luar habitat asli mereka. Kebun binatang di Eropa dan wilayah lainnya memang secara aktif memelihara cadangan genetik satwa liar untuk mencegah kepunahan total.
Harimau sumatra merupakan satu-satunya subspesies harimau Indonesia yang masih bertahan hidup setelah punahnya harimau jawa dan harimau bali. Karakteristik fisik kucing besar ini lebih kecil dibandingkan jenis lainnya, dengan panjang tubuh jantan dewasa mencapai 2,55 meter dan bobot hingga 140 kilogram. Satwa endemik Pulau Sumatra ini juga memiliki keunikan berupa kemampuan berenang yang andal serta ketangkasan dalam memanjat pohon untuk berburu di dalam hutan lebat.
Berdasarkan data terbaru yang dilaporkan Associated Press, populasi harimau sumatra di alam liar saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 400 ekor.
Penyusutan angka ini dipicu oleh laju kerusakan hutan yang masif akibat alih fungsi lahan menjadi area perkebunan dan permukiman. Konflik antara manusia dan satwa liar yang kerap terjadi di perbatasan kawasan hutan turut mempercepat penurunan populasi pemangsa puncak ini.
Pihak pengelola Attica Zoological Park menyatakan bahwa keberadaan populasi di lembaga konservasi luar negeri memiliki peran jangka panjang. Anak-anak harimau yang lahir di penangkaran ini dipersiapkan sebagai cadangan genetik yang sehat secara medis. Jika kondisi habitat alami di Sumatra telah dinilai aman dan pulih, keturunan dari program ini berpotensi dilepasliarkan kembali ke alam bebas.
Keberhasilan reproduksi di Yunani ini mengindikasikan bahwa manajemen penangkaran eks situ di Eropa berjalan dengan standar kesejahteraan satwa yang tinggi.
Upaya pelestarian ini tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya komitmen serius dari pemerintah Indonesia untuk melindungi sisa hutan hujan di Sumatra. Sinergi antara konservasi eks situ di luar negeri dan perlindungan in situ di dalam negeri menjadi kunci penyelamatan harimau sumatra dari ambang kepunahan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor














