Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan posisi Washington di Majelis Umum PBB dengan menyatakan tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Ketegangan ini memicu debat mengenai efektivitas diplomasi dan kepatuhan Iran terhadap perjanjian nuklir 2015 yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, berpendapat bahwa strategi Teheran selama ini hanyalah kedok untuk ambisi jangka panjang mereka. Ia menilai IAEA tidak pernah memiliki akses memadai ke pangkalan militer Iran, tempat komponen senjata nuklir diduga dikembangkan secara rahasia.
Situasi geopolitik kian pelik setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam sebuah serangan udara Israel pada tahun 2026. Kepergian Khamenei memicu pertanyaan besar terkait status fatwa yang melarang produksi dan penimbunan senjata nuklir, yang selama ini menjadi argumen utama Iran mengenai sifat damai program nuklir mereka.
Pengganti Khamenei, Mojtaba Khamenei, hingga kini belum memberikan penegasan ulang atas fatwa tersebut. Tim Bosch, mantan pejabat intelijen senior Belanda, mencatat bahwa kelompok penentang senjata nuklir di dalam struktur kekuasaan Teheran kini jauh lebih lemah dibandingkan sebelumnya.
Hingga saat ini, belum ada bukti konklusif mengenai perubahan doktrin nuklir resmi Iran. Namun, dengan akses inspeksi IAEA yang sangat terbatas, dunia hanya bisa berspekulasi mengenai seberapa jauh kemajuan teknis yang telah dicapai oleh rezim tersebut dalam pengayaan uranium menuju level senjata nuklir.