Mengenang George Major: Sang Pearly King yang Ikonik dari East London

London kehilangan salah satu sosok paling berwarna dengan berpulangnya George Major, atau yang lebih dikenal sebagai Pearly King of Peckham, pada Agustus lalu di usia 88 tahun.
Pertemuan saya dengannya pada 2016 di East London menjadi kenangan yang tak terlupakan. Saat itu, Major tampil mencolok dengan setelan hitam penuh kancing kerang mutiara yang berkilauan di bawah sinar matahari.
Dia bukan sekadar pria tua dengan busana unik, melainkan seorang tokoh lokal yang memelihara sejarah kaum pekerja London. Major tumbuh besar di tengah masa Perang Dunia II dan menghabiskan masa mudanya sebagai pedagang pasar, sebuah profesi yang dalam bahasa lokal disebut sebagai costermonger.
Bahasa yang ia gunakan adalah tantangan tersendiri bagi orang asing seperti saya. Major sering menggunakan Cockney rhyming slang, sebuah bentuk dialek khas London yang sering kali menyamarkan makna asli kata-kata di balik rima yang rumit.
Sebagai contoh, istilah frog and toad yang ia ucapkan ternyata berarti road atau jalanan. Ragam bahasa ini dulunya diciptakan oleh para pedagang jalanan agar percakapan mereka tidak mudah dipahami oleh polisi atau pihak luar.
Tradisi Pearly Kings sendiri bermula dari Henry Croft pada 1870-an yang menghiasi pakaiannya dengan kancing mutiara untuk menarik perhatian dan menggalang dana amal. Gerakan ini kemudian menjadi institusi sosial bagi komunitas kelas pekerja di London yang tetap terjaga hingga saat ini.
Major sendiri adalah sosok yang penuh kontradiksi, seorang pria dengan hati emas yang sering muncul di festival jalanan, namun juga pernah berurusan dengan hukum terkait penipuan tunjangan pada 2012. Keluarganya mengenang dia sebagai sosok ceria, mirip dengan karakter Del Boy dalam sitkom populer Inggris, Only Fools and Horses.
Pada upacara pemakamannya bulan September lalu, suasana duka berubah menjadi perayaan hidup yang riuh dengan nyanyian lagu-lagu pub. Kepergiannya menandai berkurangnya satu lagi penjaga tradisi urban London yang autentik.
Kini, saat saya melintas di Bandara Heathrow, potret Major yang terpampang di dinding akan selalu mengingatkan saya pada pria yang mengajarkan bahwa di balik setiap kancing mutiara, terdapat cerita perjuangan komunitas yang tak pernah lekang oleh waktu.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor












