Kinerja Bank Besar AS Memukau, Pasar Cemas Suku Bunga Federal Reserve Naik Lagi

Kinerja keuangan sejumlah bank besar di Amerika Serikat (AS) pada kuartal pertama 2023 melampaui ekspektasi, namun hal tersebut justru memicu kekhawatiran di pasar keuangan global. Investor mencermati sinyal kuat bahwa Federal Reserve (Fed) berpotensi melanjutkan kenaikan suku bunga acuan dalam beberapa pertemuan mendatang, membebani saham-saham di Wall Street.
Dow Jones sempat melonjak 400 poin atau 1,2% dalam sepekan terakhir, diiringi kenaikan S&P 500 sebesar 0,8% dan Nasdaq Composite 0,3%. Namun, pada akhir pekan, pasar saham AS justru menunjukkan pelemahan setelah laporan pendapatan bank-bank besar memicu spekulasi kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Hasil ini mengindikasikan ketidakpastian masih menyelimuti prospek ekonomi.
Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase, yang membukukan laba dan pendapatan fantastis pada kuartal pertama, secara terbuka mengingatkan investor untuk bersiap menghadapi suku bunga yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama dari perkiraan.
“Orang-orang perlu bersiap. Mereka seharusnya tidak berharap suku bunga tidak naik. Mereka harus bersiap untuk kemungkinan kenaikan,” ujar Dimon dalam konferensi pasca-rilis pendapatan perusahaan.
Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang pada Jumat (14/4) menegaskan bahwa bank sentral perlu melanjutkan pengetatan kebijakan moneter.
Sentimen pasar semakin terbebani oleh pandangan Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, yang tidak mengesampingkan potensi resesi ringan di AS menyusul gejolak perbankan bulan lalu.
Gejolak perbankan memang menjadi sorotan utama. The Fed telah menyetujui akuisisi anak perusahaan Credit Suisse di AS oleh UBS pada Jumat (14/4), sebulan setelah UBS menyelamatkan lembaga keuangan Swiss yang sedang kesulitan itu. Akuisisi ini terjadi setelah pinjaman darurat senilai hampir USD 54 miliar (sekitar Rp874,8 triliun) dari Bank Nasional Swiss gagal membendung kehancuran Credit Suisse, yang diawali penarikan dana besar setelah Saudi National Bank, pemegang saham terbesarnya, menolak menambah modal.
Di sisi lain, BlackRock, perusahaan manajemen aset terbesar di dunia, memangkas gaji CEO Larry Fink sebesar 30% menjadi USD 25,2 juta (sekitar Rp408,24 miliar) untuk tahun 2022.
Langkah ini diambil setelah perusahaan melaporkan penurunan pendapatan kuartal pertama sebesar 10% dibanding tahun sebelumnya, imbas kenaikan suku bunga dan ketidakpastian ekonomi.
“Manajemen memutuskan untuk mengurangi dampak penurunan profitabilitas perusahaan terhadap seluruh karyawan BlackRock dengan memusatkan penyesuaian penurunan penghargaan insentif total kepada manajemen senior,” demikian tertulis dalam laporan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS.
Data ekonomi juga menunjukkan pelemahan. Penjualan ritel AS turun 1% pada Maret dari bulan sebelumnya, lebih dalam dari perkiraan 0,4%. Ini menandakan melemahnya daya beli konsumen dan ekonomi AS.
Penurunan ini didorong oleh berkurangnya pengeluaran di toko serba ada dan barang tahan lama seperti peralatan rumah tangga dan furnitur.
Meskipun demikian, sentimen konsumen relatif stabil pada April, menurut survei bulanan terbaru University of Michigan. Direktur survei konsumen University of Michigan, Joanne Hsu, menyebutkan bahwa belum banyak dampak krisis perbankan terhadap sikap konsumen, namun kekhawatiran resesi dan inflasi masih membayangi.
Namun, harapan inflasi setahun ke depan meningkat menjadi 4,6% pada April dari 3,6% pada Maret, dipicu kenaikan harga bahan bakar. “Konsumen masih merasakan dampak dari harga yang tinggi,” kata Hsu, mencatat bahwa responden survei kini kembali menyebutkan harga bensin, hal yang tidak terjadi sejak musim gugur.
Kondisi ini menambah kompleksitas bagi Fed, yang mencoba menyeimbangkan target stabilitas harga dengan menjaga pertumbuhan ekonomi. Austan Goolsbee dari Federal Reserve Bank of Chicago menilai bahwa perlambatan kenaikan harga konsumen dan produsen, serta penurunan penjualan ritel, mengindikasikan upaya The Fed berhasil mengendalikan inflasi.
Edward Moya, analis pasar senior di OANDA, merangkum situasi ini. "Terlalu banyak berita yang harus dicerna pagi ini, namun poin pentingnya adalah Fed masih memiliki ruang untuk melakukan lebih banyak kerusakan," ujarnya
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor













