Korea Selatan Waspada Serangan Siber Berbasis Kecerdasan Buatan pada Sektor Perbankan

Pemerintah Korea Selatan kini berada dalam status siaga tinggi setelah serangkaian peretasan sistem keamanan siber melanda tujuh lembaga keuangan utama negara tersebut pekan lalu. Insiden ini memicu kekhawatiran karena pelaku diduga memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence untuk memuluskan aksi mereka.
Data pribadi milik sekitar 68.000 nasabah, termasuk nama, nomor telepon, hingga rincian limit pinjaman, dilaporkan telah bocor ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab. Beberapa lembaga perbankan besar yang terdampak antara lain Shinhan Bank, KB Kookmin Bank, dan Hana Bank.
Perdana Menteri Han Seong-sook dalam rapat kabinet menegaskan bahwa situasi ini memerlukan penanganan cepat untuk mencegah kerusakan sekunder. Ia menekankan bahwa penggunaan AI dalam serangan phising dapat membuat aksi kejahatan siber menjadi jauh lebih meyakinkan dan sulit dideteksi oleh masyarakat awam.
Kondisi ini tidak hanya menyasar sektor keuangan semata. Dua gereja besar serta perusahaan listrik nasional, Korea Electric Power Corp., juga mengonfirmasi adanya akses ilegal ke dalam sistem daring mereka, meskipun belum ada kepastian mengenai keterkaitan pelaku di balik semua serangan tersebut.
Para peneliti keamanan siber menemukan jejak perangkat lunak bernama ARTEX di dalam log perbankan yang diretas. Perangkat ini merupakan alat penetrasi otomatis sumber terbuka atau open-source yang dapat diakses siapa pun secara daring.
Pakar keamanan siber dari Brave New Coin, Aditya Das, menyatakan bahwa penggunaan berbagai alamat protokol internet (IP) dari berbagai negara kemungkinan besar hanyalah taktik untuk mengecoh jejak. Meskipun ada temuan alamat IP dari Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman, hal tersebut tidak serta-merta menunjukkan asal negara pelaku.
Celakanya, para peretas memanfaatkan kelemahan protokol otentikasi pada portal perekrut pinjaman luar dan aplikasi internal karyawan. Peneliti keamanan siber mencatat bahwa perusahaan cenderung fokus mengamankan sistem inti, namun kerap mengabaikan sistem pendukung yang justru menjadi pintu masuk bagi peretas.
Profesor dari Sogang University, Hyobin Lee, menyoroti bahwa kehadiran teknologi kecerdasan buatan telah menurunkan hambatan teknis bagi pelaku kejahatan siber. Dulu, seorang peretas membutuhkan keahlian teknis tinggi dan waktu lama, namun kini AI membantu mereka menulis kode berbahaya serta menganalisis celah keamanan dengan jauh lebih cepat.
Dampak dari kebocoran data ini diprediksi akan berlangsung dalam jangka panjang. Identitas yang dicuri dapat dikombinasikan dengan data lain untuk melakukan penipuan finansial yang sangat terarah, yang pada akhirnya akan menggerus kepercayaan publik terhadap sistem keuangan secara keseluruhan.
Pemerintah Korea Selatan kini menginstruksikan lembaga publik dan sektor swasta untuk tetap waspada. Ancaman serupa kini membayangi sektor krusial lainnya seperti rumah sakit, infrastruktur energi, dan jaringan telekomunikasi yang menyimpan data sensitif warga negara.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)












