Lionel Messi Resmi Pensiun dari Argentina Usai Laga Kontra Benin

Lionel Messi resmi mengakhiri perjalanannya bersama tim nasional Argentina usai laga kemenangan 3-0 melawan Benin di Stadion Monumental pada Rabu (7/10) pagi WIB. Penampilan terakhir ini menjadi penutup karier internasional sang kapten yang telah membela negaranya selama lebih dari dua dekade.
Federasi Sepak Bola Argentina memberikan penghormatan khusus kepada Messi melalui sebuah seremoni perpisahan emosional yang disaksikan oleh ribuan penggemar di stadion.
Dalam momen tersebut, Messi tidak mampu menyembunyikan rasa sedihnya saat memberikan pernyataan resmi di tengah lapangan. Ia mengaku bahwa keputusan untuk tidak lagi mengenakan seragam kebanggaan Albiceleste merupakan sesuatu yang sangat menyakitkan. Messi bahkan bersumpah bahwa bermain untuk tim nasional Argentina adalah pengalaman paling indah dalam hidupnya.
"Tidak membela Argentina lagi rasanya sangat menyakitkan. Saya bersumpah atas nama hidup saya bahwa bermain di tim nasional Argentina adalah hal paling indah yang bisa kita rasakan," ujar Messi sebagaimana dikutip dari TyC Sports.
Keputusan untuk pensiun ini dipengaruhi oleh faktor personal, terutama kenangan mendalam bersama mendiang ayahnya. Bagi Messi, sosok Jorge Messi adalah orang pertama yang melintas dalam pikirannya setiap kali ia membicarakan pengabdiannya untuk negara. Ia merasa sulit untuk merangkai kata-kata karena banyaknya emosi dan pikiran yang berkecamuk saat harus mengucapkan selamat tinggal.
"Hal pertama yang saya pikirkan adalah ayah saya," ucapnya lirih.
Messi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pendukung, serupa dengan apa yang ia tuangkan dalam surat perpisahan tertulisnya. Baginya, sebuah kebanggaan besar dapat konsisten memakai seragam tim nasional selama lebih dari 20 tahun tanpa henti.
Statistik mencatat Messi telah mengoleksi 208 penampilan bersama tim nasional Argentina sejak melakoni debut pada 17 Agustus 2005. Perjalanannya selama 21 tahun di level internasional ditandai dengan pencapaian empat gelar bergengsi. Koleksi trofi tersebut meliputi Piala Dunia, dua gelar Copa America, serta satu trofi Finalissima.
Debut Messi pada tahun 2005 silam dimulai dengan catatan yang tidak biasa ketika ia mendapatkan kartu merah hanya beberapa detik setelah masuk sebagai pemain pengganti. Namun, hambatan di awal karier tersebut justru menjadi pemacu semangat yang membawanya menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa bagi negaranya.
Messi mengakui bahwa masa-masa sulit seringkali datang menghampiri selama dua dekade pengabdiannya.
Ia pernah merasakan kekecewaan mendalam setelah kalah di final Piala Dunia 2014 serta dua kali kegagalan beruntun di final Copa America pada 2015 dan 2016. Bahkan, Messi sempat menyatakan pensiun sementara pada 2016 sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali demi mengejar mimpi yang belum tercapai. Kegigihan tersebut membuahkan hasil manis lewat serangkaian gelar juara yang diraihnya di penghujung karier.
"Bahkan di momen paling pedih yang kita rasakan, saya tidak pernah berhenti berjuang dan memberikan yang terbaik serta selalu berada di tengah-tengah kita," tutur pemain berjuluk La Pulga tersebut. Ia menegaskan komitmennya yang tidak pernah luntur meskipun harus melewati berbagai rintangan berat.
Laga penutup melawan Benin sendiri berjalan dengan dominasi penuh dari skuad asuhan Lionel Scaloni. Nicolas Otamendi membuka keunggulan Argentina sebelum akhirnya Nico Paz menambah selisih skor. Messi menyempurnakan kemenangan tersebut lewat sebuah gol yang dicetak melalui titik penalti di hadapan pendukung sendiri.
Gol penalti tersebut sekaligus menjadi kado perpisahan bagi publik sepak bola Argentina.
Kepergian Messi meninggalkan ruang besar dalam struktur kepemimpinan tim nasional yang kini mulai melakukan regenerasi pemain. Munculnya bakat muda seperti Nico Paz diharapkan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan di lapangan hijau di masa mendatang.
Meskipun Messi sudah tidak lagi bermain, pengaruhnya diprediksi akan tetap terasa di ruang ganti tim nasional Argentina. Rekan-rekan setimnya seringkali menyebut Messi sebagai mentor yang memberikan inspirasi bagi pemain muda untuk berprestasi di level dunia. Dedikasinya selama 21 tahun telah menetapkan standar tinggi bagi siapa pun yang akan mengenakan nomor punggung 10 selanjutnya.
Publik sepak bola dunia kini akan mengenang Messi sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah ada di sejarah olahraga ini. Pencapaian di Qatar pada tahun 2022 menjadi puncak kejayaan yang melengkapi seluruh lemari trofinya bersama Albiceleste.
Kini, Lionel Messi resmi meletakkan ban kapten dan memulai babak baru di luar lapangan hijau bersama keluarganya.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367208/original/025231200_1791337054-messi.jpg)










