Mengapa Perut Sering Kembung dan Ingin Kentut Saat Bepergian Menggunakan Pesawat

Sensasi perut kembung serta dorongan untuk sering buang angin merupakan keluhan yang jamak dialami penumpang saat berada di dalam kabin pesawat terbang.
Kondisi medis ini dipicu oleh perubahan tekanan udara di ketinggian yang berinteraksi langsung dengan sistem pencernaan manusia selama penerbangan berlangsung. Fenomena fisik tersebut bukan sekadar dampak dari konsumsi makanan sebelum keberangkatan, melainkan respons biologis terhadap lingkungan kabin.
Tekanan udara di dalam kabin pesawat dibuat lebih rendah dibandingkan dengan tekanan udara di permukaan tanah untuk menunjang keamanan terbang. Ketika tekanan atmosfer menurun, volume gas yang terperangkap di dalam saluran pencernaan secara otomatis akan mengalami ekspansi atau pengembangan.
Proses pengembangan volume gas ini menciptakan rasa penuh pada perut, yang secara klinis sering dirasakan sebagai kondisi begah atau keinginan untuk mengeluarkan gas melalui buang angin. Fakta ilmiah ini didukung oleh studi terdahulu yang pernah dimuat dalam The New York Times, di mana volume gas dalam saluran pencernaan terbukti meningkat secara signifikan saat individu berada dalam simulasi ketinggian hingga 30.000 kaki.
Selain faktor tekanan udara, posisi tubuh yang statis selama berjam-jam di kursi penumpang turut menghambat kinerja sistem pencernaan manusia. Minimnya aktivitas fisik membuat pergerakan usus melambat, sehingga gas yang terbentuk dalam saluran pencernaan tidak dapat disalurkan dengan lancar.
Dampak ini akan terasa lebih intens pada penerbangan jarak jauh karena durasi duduk yang panjang. Selain faktor mekanis, kondisi psikologis berupa stres atau kecemasan selama perjalanan udara juga dapat memicu gangguan pencernaan seperti kembung, sembelit, atau justru diare pada sebagian orang.
Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi sebelum keberangkatan memegang peranan vital dalam menentukan kenyamanan selama perjalanan. Penumpang disarankan menghindari konsumsi bahan makanan pemicu gas berlebih guna meminimalisasi ketidaknyamanan selama di udara.
Dr. Eamonn Quigley, seorang ahli gastroenterologi dari Houston Methodist, secara spesifik menyarankan agar individu yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap gas sebaiknya mulai membatasi asupan bawang bombai dan bawang putih setidaknya 24 hingga 48 jam sebelum jadwal penerbangan.
Memahami mekanisme perubahan tekanan dan pola gaya hidup selama di kabin memungkinkan penumpang untuk melakukan antisipasi secara mandiri. Langkah preventif melalui pengaturan pola makan dan upaya untuk tetap bergerak saat memungkinkan dapat mengurangi risiko gangguan pencernaan selama perjalanan udara.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor











