Mengenal Tsundoku, Fenomena Koleksi Buku Menumpuk dan Kaitannya dengan Psikologi

Banyak pencinta buku memiliki kebiasaan membeli bahan bacaan baru meskipun tumpukan di rumah belum sempat diselesaikan.
Dalam budaya Jepang, perilaku unik ini dikenal dengan istilah tsundoku. Istilah tersebut merujuk pada kebiasaan seseorang mengoleksi buku lalu membiarkannya menumpuk tanpa segera dibaca, sebuah praktik yang bahkan tercatat dalam literatur Jepang sejak tahun 1879.
Banyak orang menganggap tumpukan tersebut sebagai tanda kegagalan dalam membaca, namun riset menunjukkan perspektif berbeda. Fenomena ini sering kali mencerminkan cara seseorang memandang masa depan, keinginan untuk terus bertumbuh, serta rasa haus akan ilmu pengetahuan yang mendalam.
Salah satu ciri utama pelaku tsundoku adalah sikap optimis yang tinggi. Mereka meyakini bahwa setiap buku yang dibeli pasti akan dibaca suatu saat nanti, sehingga koleksi tersebut bukan dianggap sebagai masalah melainkan pengingat akan wawasan yang menanti untuk dipelajari.
Pandangan ini mengubah posisi buku dari sekadar tumpukan benda menjadi investasi intelektual. Dengan memiliki koleksi yang luas, pemiliknya merasa telah menyiapkan sarana untuk pengembangan diri di masa depan meskipun waktunya belum ditentukan.
Rasa ingin tahu yang besar menjadi motor penggerak utama di balik perilaku ini. Seseorang yang gemar belajar hal baru sering kali merasa kesulitan menahan diri untuk tidak membeli buku saat menemukan topik yang menarik, meski rak buku mereka sudah penuh sesak.
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai tanda individu yang ambisius. Menurut laman Psychology Today, mereka sering disebut sebagai tipe yang selalu ingin melampaui batasan diri dengan terus menambah wawasan dari berbagai bidang, mulai dari karier hingga topik yang sama sekali baru.
Koleksi tersebut tidak harus selalu dibaca secara instan. Bagi kelompok ini, memiliki buku adalah bentuk komitmen untuk terus berkembang dan menjaga akses terhadap informasi yang beragam kapan saja dibutuhkan.
Studi yang dilakukan oleh Australian National University dan University of Nevada pada tahun 2018 memberikan bukti empiris mengenai dampak positif memiliki banyak buku di rumah. Rumah yang dipenuhi koleksi bahan bacaan terbukti membantu meningkatkan kemampuan literasi, kognitif, serta teknologi bagi anggota keluarga di dalamnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor









:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5509683/original/007030900_1771743691-Thomas_Muller.jpg)






