Pemerintah Perancis Larang Penggunaan Granat Kejut dalam Aksi Protes Sekolah

Pemerintah Perancis resmi menghentikan penggunaan granat kejut oleh kepolisian saat menangani unjuk rasa di lingkungan sekolah. Keputusan ini diambil menyusul peningkatan laporan terkait kekerasan aparat selama dua pekan aksi protes yang melanda berbagai wilayah di negara tersebut.
Menteri Dalam Negeri Perancis mengonfirmasi langkah tegas tersebut sebagai respons atas tekanan publik yang memuncak. Penggunaan granat kejut, atau sering disebut sebagai alat pendispersi massa yang memicu ledakan keras, dinilai terlalu berisiko bagi siswa yang terlibat dalam demonstrasi.
Selama dua minggu terakhir, gelombang protes yang dilakukan oleh pelajar sekolah menengah atas menyebar luas di Perancis. Mereka menyuarakan keberatan terhadap reformasi sistem pendidikan yang direncanakan pemerintah, namun aksi tersebut kerap berakhir dengan konfrontasi fisik yang melibatkan aparat keamanan.
Laporan mengenai cedera yang dialami oleh para pengunjuk rasa muda memicu kecaman luas dari berbagai pihak. Penggunaan senjata tersebut dianggap tidak proporsional untuk meredam aspirasi para pelajar yang masih di bawah umur, sehingga memicu perdebatan mengenai batas kewenangan kepolisian di ruang publik.
Granat kejut sendiri merupakan perangkat yang dirancang untuk menghasilkan kilatan cahaya tajam dan suara ledakan keras guna membingungkan serta melumpuhkan massa secara sementara. Di banyak negara, alat ini masuk dalam kategori senjata pengendalian massa yang bersifat tidak mematikan namun tetap memiliki potensi cedera serius jika terkena anggota tubuh secara langsung.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas keamanan dalam mengelola massa yang didominasi oleh anak muda. Selain melarang penggunaan alat tersebut, pihak kepolisian kini diminta untuk mengedepankan pendekatan persuasif demi menghindari eskalasi kekerasan yang lebih luas di tengah ketegangan sosial yang masih berlangsung.
Pengamat keamanan menilai langkah ini sebagai bentuk pengakuan pemerintah atas kritik tajam terkait taktik kepolisian. Transparansi dalam penanganan demonstrasi menjadi fokus utama, mengingat Perancis memiliki sejarah panjang mengenai budaya unjuk rasa mahasiswa dan pelajar yang sering kali menentukan arah kebijakan publik.
Hingga saat ini, belum ada rincian lebih lanjut mengenai apakah larangan ini bersifat permanen atau hanya berlaku selama periode aksi protes berlangsung. Namun, langkah ini memberikan ruang bagi para pengunjuk rasa untuk kembali menyuarakan pendapat mereka tanpa dibayangi ancaman senjata yang dianggap berbahaya.
Situasi di lapangan masih dipantau ketat oleh pihak berwenang untuk memastikan tidak ada lagi insiden fatal yang melibatkan penggunaan kekuatan berlebih. Pemerintah Perancis berharap kebijakan ini dapat menurunkan tensi di antara aparat dan para pelajar yang menolak kebijakan pendidikan terbaru pemerintah.
Dampak dari peristiwa ini tentu akan memengaruhi dinamika politik dalam beberapa bulan ke depan. Publik kini menunggu apakah kebijakan serupa akan diterapkan pada aksi-aksi demonstrasi skala besar lainnya yang melibatkan kelompok buruh atau serikat pekerja di seluruh penjuru Perancis.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor











![Kaitan Aneh Iklan Googlebook Henry Cavill dengan Insiden Kumis Justice League Justice League all over again; Henry Cavill’s mustache vanishes in new Googlebook promo [Video]](https://cdn.beritana.com/media/2026/10/justice-league-all-over-again-henry-cavills-mustache-vanishes-in-new-googleboo.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367896/original/078151300_1791366398-messi.jpg)