Pertemuan Putin dan Modi: Menguji Ketahanan Hubungan Rusia dan India

Pertemuan Putin dan Modi di sela-sela KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di Bishkek, Kirgistan, menjadi sorotan global di tengah meningkatnya tekanan geopolitik dari Washington. Hubungan Rusia dan India kini tengah menghadapi ujian berat akibat dinamika politik global, khususnya terkait sanksi Barat terhadap Moskow dan konflik di Timur Tengah.
SCO merupakan aliansi politik dan keamanan regional di Eurasia yang sering kali dipandang sebagai kekuatan penyeimbang dominasi global Amerika Serikat.
Pertemuan bilateral ini berlangsung saat pasar energi dunia terguncang oleh dampak konflik geopolitik di Timur Tengah dan perang Rusia di Ukraina yang telah memasuki tahun kelima. New Delhi terus berupaya mempertahankan posisinya di dalam SCO tanpa membiarkan aliansi tersebut berubah menjadi poros anti-Barat. Sikap ini mencerminkan diplomasi pragmatis India untuk menjaga keseimbangan relasi dengan kekuatan-kekuatan global yang saling bersaing.
Namun, strategi penyeimbang tersebut kini menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Tekanan dari Amerika Serikat terus membayangi keputusan India untuk membeli minyak mentah murah dari Rusia, meskipun New Delhi berdalih langkah ini demi mengamankan pasokan energi domestik.
Mantan Duta Besar India untuk Amerika Serikat, Meera Shankar, menegaskan bahwa hubungan kemitraan dengan Moskow tidak dirancang untuk menentang Washington.
"India memiliki hubungan strategis jangka panjang dengan Rusia yang bertujuan untuk memenuhi kepentingan nasional kami, bukan untuk melawan negara lain," ujar Shankar. Sebelum tahun 2022, Rusia hanya memasok sebagian kecil dari total kebutuhan minyak India. Situasi tersebut berubah drastis setelah Moskow memberikan diskon besar-besaran pasca-invasi ke Ukraina, menjadikannya salah satu pemasok minyak terbesar bagi New Delhi.
Upaya mengamankan pasokan energi murah ini menjadi titik sensitif dalam hubungan diplomasi antara India dan Amerika Serikat. Di sisi lain, ketegangan di Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah juga mengganggu pasokan minyak India dari kawasan Teluk dan melambungkan harga komoditas tersebut.
Shankar menjelaskan bahwa New Delhi kini merespons situasi tersebut dengan mendiversifikasi sumber impor energinya, baik dari Rusia maupun Amerika Serikat.
Selain sektor energi, sektor pertahanan yang menjadi pilar utama kemitraan kedua negara juga mengalami pergeseran arah yang signifikan. Ketergantungan militer India terhadap pasokan alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan Rusia dilaporkan terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Perang di Ukraina menimbulkan keraguan besar mengenai kapasitas produksi, ketepatan jadwal pengiriman, dan ketersediaan suku cadang dari Moskow.
Pakar hubungan internasional dari Jawaharlal Nehru University, Aravind Yelery, mengonfirmasi bahwa India kini enggan berkomitmen pada program jet tempur generasi kelima Rusia. New Delhi lebih memilih kesepakatan yang mendukung program produksi pertahanan mandiri di dalam negeri daripada sekadar membeli sistem persenjataan jadi.
Faktor lain yang mengubah kalkulasi strategis ini adalah kedekatan Moskow yang terus tumbuh dengan Beijing.
Sejak sanksi ekonomi Barat mengisolasi Rusia, Tiongkok menjelma menjadi mitra ekonomi dan pasar utama yang tidak tergantikan bagi Kremlin. Kondisi tersebut dinilai mengurangi kemampuan Rusia untuk bertindak sebagai penyeimbang kekuatan Tiongkok di kawasan Asia, sebuah peran yang sangat diharapkan oleh India.
Analis geopolitik C Raja Mohan berpendapat bahwa Rusia saat ini tidak lagi berada dalam posisi yang ideal untuk membantu India mengimbangi pengaruh Tiongkok. Oleh karena itu, fokus hubungan bilateral kini bergeser pada kepentingan spesifik seperti ketahanan energi dan pasokan teknologi pertahanan. Untuk kepentingan strategis yang lebih luas, India cenderung mempererat kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat, Prancis, dan Israel.
Mohan menggambarkan pendekatan ini sebagai strategi "Amerika plus", di mana India memperluas kemitraan global tanpa melepaskan hubungan utamanya dengan Washington. Langkah ini diambil untuk meminimalkan dampak volatilitas politik domestik Amerika Serikat terhadap kepentingan luar negeri India.
Profesor kajian Rusia di Jawaharlal Nehru University, Rajan Kumar, menilai bahwa Presiden Vladimir Putin sangat membutuhkan jaminan dari Perdana Menteri Narendra Modi.
Putin menginginkan kepastian bahwa India tidak akan meninggalkan Rusia yang sedang menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak era 1990-an. Pertemuan di Bishkek ini diproyeksikan sebagai upaya menjaga kontinuitas hubungan lama di tengah gencetan sanksi Barat dan tekanan diplomatik global.
Ujian sesungguhnya bagi diplomasi kedua negara akan terjadi pada bulan September mendatang saat Putin dijadwalkan menghadiri KTT BRICS di New Delhi. BRICS merupakan kelompok kerja sama ekonomi yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Forum tersebut akan membuktikan sejauh mana kesepakatan politik di Bishkek dapat diwujudkan dalam kerja sama konkret di bidang perdagangan dan teknologi.
Meskipun lanskap geopolitik telah berubah, Moskow tetap menyadari nilai penting New Delhi yang memiliki posisi strategis independen di kancah internasional.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor








