Kekerasan Pemukim Israel di Tepi Barat Picu Ketegangan Baru di Qusra

Kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat kembali meningkat setelah sekelompok pria bermasker menyerang permukiman warga Palestina di Desa Qusra pada Sabtu waktu setempat. Aksi pelemparan batu dan pengepungan rumah warga ini memicu ketegangan baru di wilayah pendudukan yang masih bergolak tersebut.
Insiden tersebut tercatat sebagai serangan skala besar pertama sejak para pemukim sayap kanan memulai blokade di wilayah Qusra dan Desa Jalud yang bertetangga sejak awal bulan ini.
Menurut keterangan militer Israel, Pasukan Pertahanan Israel atau IDF, para penyerang mendatangi Qusra lalu melempari warga setempat menggunakan batu. Puluhan warga Palestina yang panik segera berlindung dan mengunci diri di dalam sebuah rumah. Kelompok pemukim ekstremis itu terus mengejar hingga mengepung tempat perlindungan darurat tersebut.
Pihak IDF menyatakan bahwa personel keamanan segera dikerahkan ke lokasi kejadian demi membubarkan massa yang bertikai. Petugas di lapangan berupaya memisahkan kedua kelompok guna melindungi warga sipil yang terjebak di dalam bangunan.
Kendati militer mengklaim telah menyita kendaraan milik pemukim dan mengumpulkan bukti kejahatan, media lokal Palestina melaporkan hal sebaliknya. Aparat keamanan dituding justru memberikan perlindungan kepada para penyerang selama bentrokan berlangsung. Warga menuturkan bahwa aparat membiarkan aksi anarkis tersebut berjalan tanpa tindakan tegas.
Sejumlah warga Palestina dilaporkan mengalami luka-luka setelah disemprot menggunakan gas air mata serta cairan merica oleh para pemukim.
Para pelaku juga dilaporkan berusaha membakar lahan pertanian milik warga Palestina yang berada di sekitar lokasi konflik. Salah seorang saksi mata menyebutkan bahwa tentara IDF justru menembakkan gas air mata ke arah rumah tempat warga berlindung. Di sisi lain, kelompok pemukim yang melakukan penyerangan dibiarkan pergi tanpa hambatan.
Warga yang terjebak di dalam rumah mengaku sempat diborgol, ditutup matanya, dan dipukuli oleh oknum petugas sebelum akhirnya dilepaskan. Mereka harus menunggu bantuan hingga berjam-jam di tengah ketakutan yang mencekam.
Hingga kini, pihak IDF memilih bungkam dan menolak memberikan konfirmasi resmi mengenai tuduhan penggunaan gas air mata maupun kekerasan fisik terhadap warga sipil tersebut.
Wilayah Tepi Barat sendiri merupakan area yang direbut Israel dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967. Berdasarkan hukum kemanusiaan internasional, khususnya Konvensi Jenewa Keempat, sebuah negara pendudukan dilarang memindahkan sebagian penduduk sipilnya ke wilayah yang diduduki. Hukum internasional memandang seluruh permukiman Yahudi di wilayah tersebut sebagai tindakan ilegal, meskipun pemerintah Israel terus membantah klaim tersebut.
Para pemukim ekstremis merasa mendapat angin segar seiring kebijakan pemerintah sayap kanan Israel yang gencar mendorong perluasan permukiman baru. Kebijakan ini terus berjalan terlepas dari penolakan keras yang disuarakan oleh komunitas internasional.
Meski demikian, eskalasi kekerasan pada hari Sabtu kemarin akhirnya memancing kecaman yang jarang terjadi dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Melalui pernyataan resmi di media sosial, Netanyahu mengutuk keras tindakan kekerasan kriminal yang dilakukan oleh segelintir perusuh yang melanggar hukum tersebut. Menurutnya, aksi anarkis itu menimbulkan ketidakadilan besar bagi komunitas Yahudi yang taat hukum, mengganggu misi militer, sekaligus merusak citra Israel di mata dunia.
Kritik tajam tidak hanya datang dari internal Israel, melainkan juga dari sekutu terdekat mereka, Amerika Serikat. Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, secara terbuka melabeli para pemukim radikal di Tepi Barat sebagai teroris Israel. Huckabee menegaskan bahwa dalang di balik pengepungan wilayah Qusra berisiko menghadapi sanksi ekonomi dari pemerintah Amerika Serikat.
Namun bagi warga Palestina di Qusra, kecaman diplomatik tersebut belum mampu menghentikan ancaman intimidasi fisik yang mereka hadapi hampir setiap hari.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor








