Bencana Banjir Bandang Nepal Menguji Ketangguhan Pemerintah Baru PM Balen Shah

Bencana banjir bandang Nepal yang merenggut ratusan korban jiwa kini menjadi ujian berat pertama bagi pemerintahan baru Perdana Menteri Balendra Shah. Tragedi kemanusiaan ini melanda wilayah pegunungan Himalaya hanya beberapa hari sebelum genap satu tahun kepemimpinannya berjalan.
Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa lebih dari 900 orang tewas dan hampir 4.800 lainnya masih dinyatakan hilang hingga pencarian hari keenam.
Aliran banjir yang membawa material batu, es, dan lumpur menyapu pemukiman di dekat perbatasan Tiongkok serta merusak berbagai infrastruktur vital. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah pembangkit listrik tenaga air yang sedang dalam masa pembangunan.
Ratusan pekerja diduga masih terjebak di dalam terowongan bawah tanah yang tertimbun longsoran lumpur pekat.
Perdana Menteri Balendra Shah, seorang mantan musisi rap berusia 36 tahun yang akrab disapa Balen, naik ke tampuk kekuasaan setelah gelombang aksi protes antikorupsi yang dimotori generasi muda pada September 2025. Kini, kabinet mudanya yang minim pengalaman harus mengendalikan krisis terburuk yang melanda Nepal dalam satu dekade terakhir.
Bagi sebagian warga terdampak, penanganan krisis ini dirasa masih lambat dan tidak merata.
Sushila Giri, salah satu orang tua korban, masih setia menunggu kabar dari putranya yang sedang magang di lokasi proyek pembangkit listrik. Ia menceritakan bahwa anaknya berada di mes karyawan saat bencana tiba-tiba menerjang kawasan tersebut.
Hingga kini, kepastian mengenai kondisi sang anak masih belum menemui titik terang.
Kritik serupa disampaikan oleh aktivis muda Raksha Bam yang mendesak pemerintah segera meminta bantuan keahlian khusus dari komunitas internasional untuk evakuasi di terowongan. Keterlambatan penyelamatan para pekerja di area pembangkit listrik menjadi sorotan tajam kelompok pemuda pendukung pemerintah.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor








