Potensi Deteksi Dini Tumor Otak Melalui Sampel Air Mata Manusia

Deteksi dini tumor otak kini mulai dijajaki melalui metode pengambilan sampel air mata oleh tim peneliti dari Universitas Manchester, Inggris.
Penelitian yang dipimpin oleh Petra Hamerlik ini berupaya menjawab tantangan diagnosa tumor otak yang selama ini sering terlambat diketahui karena minimnya gejala spesifik pada tahap awal. Sakit kepala kronis atau kejang yang sering dialami pasien kerap dianggap sebagai keluhan medis biasa, sehingga memperpanjang durasi waktu penanganan bagi tenaga medis.
Hamerlik memiliki motivasi personal yang kuat dalam riset ini, mengingat ayahnya pernah meninggal dunia akibat tumor otak setelah mengalami keterlambatan diagnosa selama delapan bulan. Berangkat dari pengalaman tersebut, ia mulai melakukan eksplorasi ilmiah sejak tahun 2012 setelah berdiskusi mengenai kaitan antara sistem saraf pusat dan cairan mata.
Hipotesis penelitian ini didasarkan pada hubungan anatomis antara mata dan otak melalui saraf optik serta kelenjar air mata yang dikendalikan oleh batang otak. Peneliti menduga bahwa perkembangan sel tumor di otak dapat memicu perubahan sistem kekebalan tubuh yang kemudian tercermin dalam komposisi biologis air mata seseorang.
Sebanyak 500 partisipan telah terlibat dalam pengujian awal yang menggunakan metode serupa dengan tes Schirmer untuk penderita mata kering. Kertas khusus diletakkan di bawah kelopak mata selama sepuluh menit untuk menyerap cairan, yang kemudian dianalisis kandungan protein dan informasi biologis di dalamnya.
Meskipun hasil awal menunjukkan akurasi yang menjanjikan, Hamerlik menegaskan bahwa metode ini masih memerlukan waktu sekitar satu dekade sebelum bisa diterapkan secara klinis. Tim peneliti kini tengah melaksanakan studi validasi besar bernama INFORM yang melibatkan pasien dari berbagai negara, termasuk Inggris, Jerman, hingga Swedia.
Tujuan utama dari pengembangan metode ini bukanlah untuk menggantikan pemeriksaan MRI yang sudah menjadi standar emas saat ini. Sebaliknya, tes air mata dirancang sebagai instrumen triase yang cepat untuk mempercepat alur diagnosis bagi pasien yang memiliki indikasi neurologis mencurigakan.
Para ilmuwan tetap menjaga kehati-hatian agar metode ini memiliki spesifikasi tinggi sehingga tidak terjadi salah diagnosa antara tumor otak dengan kondisi neurologis lainnya. Jika validasi klinis tercapai, teknik pengambilan sampel air mata ini diharapkan dapat menjadi terobosan medis yang memberikan harapan baru bagi jutaan orang di seluruh dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor








