Proyek Resort Mewah Jared Kushner di Albania Memicu Protes Rakyat

Rencana pembangunan proyek resort mewah Jared Kushner di pesisir Albania memicu gelombang protes besar-besaran dari warga setempat. Demonstrasi ini terjadi akibat kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kerusakan lingkungan di kawasan lindung tersebut.
Ribuan pengunjuk rasa memadati jalan-jalan di ibu kota Tirana untuk mendesak Perdana Menteri Edi Rama segera mengundurkan diri.
Kemarahan publik memuncak setelah pemerintah memberikan izin awal bagi proyek pariwisata yang digarap oleh menantu mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tersebut. Area pembangunan mencakup Pulau Sazan, bekas pangkalan militer Uni Soviet, serta wilayah pesisir Zvernec yang menjadi habitat ratusan spesies burung migran. Keberadaan alat berat di kawasan lindung ini memicu kekhawatiran akan kerusakan ekosistem yang tidak dapat diperbaiki.
Ivanka Trump, istri Kushner, menyatakan ketertarikannya pada wilayah tersebut setelah mereka tidak sengaja berkunjung saat berlibur beberapa tahun lalu. Ia mengeklaim pembangunan pariwisata premium ini akan membawa perubahan positif bagi masa depan wilayah pesisir Albania.
Namun, para ahli ekologi menilai proyek ambisius ini akan menghancurkan salah satu ekosistem paling berharga di Eropa Timur.
Kepala Asosiasi Ornitologi Albania, Taulant Bino, memaparkan bahwa ada lebih dari 250 spesies burung yang menggantungkan hidup pada kelestarian laguna Zvernec. Konstruksi jalan akses untuk ekskavator di tengah musim kawin satwa dinilai sangat merusak kelangsungan hidup hewan melata dan amfibi. Rencana pendirian gedung tinggi berkapasitas 10.000 kamar tersebut dinilai lebih mirip proyek pembangunan kota baru dibanding pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.
Sejumlah organisasi lingkungan kini bersatu mengajukan gugatan hukum terhadap pemerintah Albania karena dinilai melanggar komitmen internasional. Mereka merujuk pada regulasi Natura 2000, sebuah jaringan perlindungan ekologi Uni Eropa yang mengikat bagi Albania sebagai negara calon anggota.
Pengacara lingkungan Dorian Matlija menegaskan bahwa hukum tersebut dengan jelas membatasi pemanfaatan lahan lindung hanya untuk sektor tradisional seperti pertanian skala kecil.
Langkah investasi ini kian tersandung masalah setelah kejaksaan antikorupsi Albania membekukan rekening salah satu perusahaan lokal yang terlibat. Investigasi difokuskan pada dugaan pemalsuan sertifikat tanah yang melibatkan Albania Land Development, perusahaan milik konglomerat asal Qatar yang menyokong dana Kushner. Masalah kepemilikan aset yang buram ini berisiko menimbulkan konsekuensi hukum yang berat bagi para penanam modal asing.
Jurnalis investigasi senior Albania, Lindita Cela, mendapati keberadaan jaringan perusahaan cangkang rumit yang terhubung dengan proyek pariwisata ini. Ia menggambarkan proses penelusuran dokumen keuangan tersebut sangat sulit karena melibatkan banyak entitas berlapis di Belanda.
Salah satu perusahaan induk bernama Interroyal BV bahkan hanya didirikan dengan modal awal sebesar EUR 18.000 (sekitar Rp316 juta) oleh warga negara Rusia dan Bulgaria.
Di lokasi rencana pembangunan, penolakan keras terus disuarakan oleh warga lokal yang khawatir kehilangan akses terhadap ruang publik mereka. Seorang insinyur perangkat lunak setempat, Albi Batozi, menyatakan bahwa pantai publik seharusnya menjadi milik bersama dan bukan untuk dimonopoli kaum elite. Ia mengenang masa kecilnya saat seluruh warga dari berbagai kelas sosial bebas menikmati pantai tersebut tanpa sekat pembatas.
Meskipun kantor perdana menteri berargumen bahwa investasi ini ditujukan untuk menciptakan standar pariwisata berkelanjutan yang baru, skeptisisme warga tetap tinggi. Bagi masyarakat setempat, pembangunan resort mewah di salah satu negara termiskin di Eropa ini dipandang tidak selaras dengan kebutuhan riil rakyat.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor








