Regulator AS Koordinasi Pengawasan Kripto, Binance Disorot di Eropa

Para regulator di Amerika Serikat menunjukkan langkah proaktif dalam mengawasi industri aset digital. Negara bagian New York dan Wyoming sepakat untuk berkoordinasi dalam pengawasan perusahaan kripto yang beroperasi di kedua wilayah hukum tersebut. Kesepakatan ini mencakup tinjauan lisensi, pemeriksaan, dan tindakan penegakan hukum.
Perjanjian antara New York State Department of Financial Services (NYDFS) dan Wyoming Division of Banking ini akan memungkinkan kedua lembaga regulator untuk berbagi informasi pengawasan dan data pemeriksaan historis. Mereka juga berencana mengoordinasikan jadwal pemeriksaan dan bahkan dapat melakukan tinjauan bersama terhadap perusahaan yang beroperasi di kedua yurisdiksi.
Bagi perusahaan kripto, kesepakatan ini berpotensi mempercepat proses perizinan. Perusahaan yang telah memegang lisensi atau piagam selama minimal tiga tahun tanpa sanksi peraturan dapat memenuhi syarat untuk tinjauan yang dipercepat, dengan target keputusan dalam waktu enam bulan. Ini tentu akan menjadi angin segar bagi inovator di ruang aset digital yang mencari kepastian regulasi.
Selain itu, kemitraan ini memungkinkan New York dan Wyoming untuk berbagi informasi investigasi dan mengoordinasikan potensi tindakan penegakan hukum. Langkah ini menunjukkan keseriusan kedua negara bagian dalam menciptakan lingkungan yang aman dan teratur bagi para pelaku industri kripto, sekaligus melindungi konsumen.
Pendekatan yang berbeda antara kedua negara bagian justru menjadi kekuatan dalam kolaborasi ini. New York telah menerapkan rezim BitLicense yang ketat sejak 2015, sementara Wyoming secara aktif mengadopsi undang-undang yang berfokus pada kripto dan piagam perbankan khusus yang dirancang untuk mengakomodasi bisnis aset digital.
Di benua Eropa, sorotan justru tertuju pada raksasa bursa kripto Binance. Regulator Eropa dilaporkan sedang meneliti penggunaan Binance terhadap pengecualian hukum untuk terus melayani pelanggan di Uni Eropa tanpa otorisasi yang sesuai dengan aturan kripto blok tersebut. Otoritas Sekuritas dan Pasar Eropa (ESMA) bersama regulator di Prancis, Jerman, dan Yunani sedang memeriksa penggunaan 'reverse solicitation' oleh Binance di bawah Markets in Crypto-Assets Regulation (MiCA).
Binance sebelumnya telah menarik aplikasi MiCA-nya di Yunani pada bulan Juni dan menyatakan akan mencari otorisasi di negara anggota Uni Eropa lainnya. Namun, laporan terbaru menyebutkan Binance mengandalkan 'reverse solicitation' untuk tetap melayani sebagian pelanggan Uni Eropa. Pengecualian ini memungkinkan penyedia layanan aset kripto (CASP) di luar Uni Eropa untuk melayani pelanggan yang mendekati mereka atas inisiatif sendiri sepenuhnya.
Namun, panduan ESMA menekankan bahwa perusahaan tidak boleh menggunakannya untuk menghindari persyaratan MiCA.
Sementara itu, dompet kripto populer, MetaMask, mengumumkan respons terhadap insiden keamanan yang memengaruhi sebagian infrastrukturnya. Sebagai langkah pencegahan, MetaMask mulai menarik diri dari validator staking yang terdampak dan sedang menyelidiki insiden keamanan yang belum diungkapkan secara rinci. Perusahaan menyatakan sedang mengatasi ancaman tersebut secara internal dan bekerja sama dengan mitra eksternal serta penasihat keamanan.
MetaMask meyakinkan pengguna bahwa sejauh ini belum teridentifikasi ancaman langsung terhadap dompet MetaMask. Perusahaan mengelola lebih dari USD 3 miliar (sekitar Rp46 triliun) Ether yang di-stake melalui infrastrukturnya, menjadikannya gerbang utama bagi pengguna yang ingin melakukan staking Ethereum.
Langkah-langkah pencegahan ini melibatkan validator dalam operasi staking non-penitipan mereka, menunjukkan komitmen MetaMask untuk menjaga keamanan aset penggunanya di tengah dinamika industri aset digital yang terus berkembang.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor












