Memasuki Oktober, Akankah Bitcoin Kembali Mengulangi Tren Positif Uptober?

Memasuki bulan Oktober, para pelaku pasar kripto kembali menaruh harapan pada fenomena yang dikenal sebagai Uptober. Istilah ini merujuk pada tren historis di mana harga aset kripto cenderung menunjukkan performa luar biasa sepanjang bulan kesepuluh setiap tahunnya.
Bitcoin mengawali bulan ini di level USD 83.823 atau sekitar Rp1,31 miliar setelah sempat melewati bulan September yang penuh gejolak. Meski September sering dianggap sebagai bulan suram bagi pasar finansial, Bitcoin justru mampu mencatatkan kenaikan bulanan sebesar 6,33 persen.
Kinerja September tahun ini memang sempat diprediksi akan menjadi yang terbaik sepanjang masa. Sayangnya, koreksi harga pada hari terakhir perdagangan memangkas perolehan tersebut, meskipun Bitcoin tetap berhasil mempertahankan zona hijau di tengah sentimen pasar yang kurang menguntungkan.
Sejak tahun 2013, data dari CoinGlass menunjukkan Oktober rata-rata memberikan imbal hasil sebesar 19,92 persen bagi investor kripto. Namun, catatan historis ini sempat terputus pada 2025 lalu ketika pasar ditutup melemah sebesar 3,69 persen di bulan Oktober.
Situasi makroekonomi global saat ini menjadi faktor penentu yang lebih dominan dibandingkan sentimen musiman. Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat baru saja menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 16 September ke kisaran 3,75 persen hingga 4 persen.
Kenaikan suku bunga ini memberikan tekanan pada aset berisiko seperti kripto karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal bagi investor. Selain itu, obligasi pemerintah atau Treasury kini menawarkan imbal hasil yang lebih menarik, sehingga Bitcoin harus bersaing sebagai instrumen investasi.
Data dari pengelola Bitcoin ETF menunjukkan aliran dana keluar bersih atau net outflow tercatat sebesar USD 148,69 juta (sekitar Rp2,3 triliun) pada penutupan September. Angka ini menghentikan tren positif aliran dana masuk selama sembilan hari berturut-turut yang sempat menyentuh akumulasi lebih dari USD 3 miliar.
Meskipun demikian, indikator teknikal masih menunjukkan sinyal optimisme bagi para pembeli. Average Directional Index berada di angka 41,5, yang mengonfirmasi bahwa tren penguatan yang didorong oleh pembeli masih cukup kuat di pasar saat ini.
Relative Strength Index yang berada di level 61,8 juga mengindikasikan dominasi pembeli tanpa mencapai area jenuh beli. Hal ini memberi ruang bagi harga untuk bergerak lebih tinggi sebelum aksi ambil untung dalam skala besar mulai mendominasi pergerakan pasar.
Pelaku pasar kini menanti serangkaian data ekonomi penting sepanjang Oktober. Laporan ketenagakerjaan, data inflasi atau CPI, serta pengumuman kebijakan moneter lanjutan dari Federal Reserve pada 28 Oktober diprediksi akan memicu volatilitas harga yang signifikan.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor









:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363256/original/065722700_1790847152-ronaldo_2.jpg)


