Darwis menambahkan penjelasan mengenai posisi geografis kepulauan Indonesia yang berada di wilayah cincin api pasifik yang sangat aktif. Wilayah Indonesia berada tepat di atas titik pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan lempeng Pasifik. Pergerakan konstan dari ketiga lempeng tektonik inilah yang memicu aktivitas seismik dan vulkanik secara alami di berbagai daerah.
Program Penelitian Auroral Aktif Frekuensi Tinggi atau HAARP sendiri merupakan fasilitas observasi yang dibangun untuk mempelajari karakteristik dan perilaku ionosfer. Lapisan atmosfer bumi bagian atas ini sangat mempengaruhi sistem komunikasi radio dan navigasi satelit global.
Pada awal pengembangannya, proyek ilmiah yang berbasis di Alaska ini mendapat sokongan dana serta keterlibatan dari militer Amerika Serikat. Latar belakang keterlibatan militer inilah yang kemudian memicu lahirnya beragam teori konspirasi di jagat maya, mulai dari pengendali cuaca hingga pemicu bencana. Hingga hari ini, belum pernah ada satu pun kajian ilmiah resmi yang membuktikan bahwa pancaran gelombang radio frekuensi tinggi mampu memicu letusan gunung berapi atau menggeser lempeng tektonik.
Instansi riset vulkanologi nasional secara konsisten merilis data pemantauan aktivitas gunung api berdasarkan sensor seismik dan deformasi fisik di lapangan. Seluruh data tersebut menunjukkan bahwa proses akumulasi energi magma membutuhkan waktu bulanan bahkan tahunan sebelum akhirnya terlepas menjadi erupsi.
Para ahli geologi menegaskan bahwa aktivitas vulkanik beruntun pada beberapa gunung api merupakan peristiwa alamiah murni yang dikontrol oleh tekanan magma di dalam perut bumi. Hubungan sebab-akibat antara agenda politik luar negeri dengan aktivitas geofisika bumi dipastikan tidak memiliki dasar metodologi ilmiah sama sekali.