
Perusahaan neobank Fasset berhasil mencatatkan valuasi sebesar USD 1 miliar atau sekitar Rp15,6 triliun setelah mendapatkan dukungan besar dari raksasa keuangan Jepang, SBI Holdings. Langkah strategis ini terjadi di tengah peningkatan adopsi sistem pembayaran stablecoin global yang kian diminati oleh institusi keuangan arus utama.
Valuasi fantastis ini menempatkan Fasset dalam jajaran elit perusahaan rintisan berstatus unicorn baru di sektor teknologi finansial global.
Dalam putaran pendanaan terbaru ini, Fasset berhasil mengantongi dana segar sebesar USD 68 juta atau sekitar Rp1,06 triliun. Chief Executive Officer Fasset, Mohammad Raafi Hossain, menyatakan kepada CoinDesk bahwa pendapatan perusahaan telah melonjak hingga enam kali lipat. Pertumbuhan luar biasa ini didorong oleh ekspansi cepat pada layanan penyelesaian transaksi dan pembayaran berbasis aset kripto stabil tersebut.
Baca Juga:
SBI Holdings yang menyokong pendanaan ini merupakan konglomerat jasa keuangan terkemuka asal Tokyo yang aktif berinvestasi pada infrastruktur aset digital. Keterlibatan raksasa Jepang ini memperkuat posisi Fasset dalam memperluas koridor pembayaran digital antara Timur Tengah dan Asia.
Stablecoin sendiri merupakan aset kripto yang nilainya dipatok satu banding satu dengan mata uang fiat seperti dolar AS untuk menjaga stabilitas nilai.
Penggunaan jenis mata uang digital ini terus meningkat karena menawarkan biaya transaksi yang jauh lebih murah dibandingkan metode transfer antarnegara tradisional. Selain itu, proses penyelesaian transaksi dapat diselesaikan dalam hitungan detik secara waktu nyata tanpa hambatan zona waktu. Keunggulan komparatif inilah yang membuat banyak pelaku usaha beralih dari jaringan perbankan konvensional ke infrastruktur berbasis rantai blok.
Fasset merancang layanannya secara khusus untuk menghubungkan populasi yang belum terjangkau oleh layanan perbankan formal di negara-negara berkembang. Melalui aplikasi neobank miliknya, pengguna dapat mengirim remitansi internasional dan berinvestasi dalam aset digital dengan modal yang sangat minim.
Saat ini, pasar stablecoin global dikabarkan telah menembus kapitalisasi pasar lebih dari USD 160 miar atau setara Rp2.500 triliun.
Para analis melihat bahwa tren investasi kini tidak lagi hanya berpusat pada spekulasi perdagangan ritel semata. Lembaga keuangan besar mulai memanfaatkan teknologi ini sebagai fondasi utama dari sistem pembayaran masa depan yang lebih efisien. Dukungan SBI Holdings terhadap Fasset membuktikan bahwa integrasi antara perbankan tradisional dan keuangan terdesentralisasi kini melaju lebih cepat dari perkiraan.
Dengan suntikan dana baru ini, Fasset berencana memperluas izin operasional mereka di beberapa yurisdiksi baru di Asia Tenggara. Kehadiran layanan sejenis di Indonesia juga berpotensi memberikan opsi baru bagi ekosistem pembayaran digital nasional yang sedang tumbuh pesat.
Ekspansi ke wilayah Asia Tenggara dinilai sangat strategis mengingat tingginya volume pengiriman uang pekerja migran di kawasan ini.
Di Indonesia sendiri, Bank Indonesia terus merumuskan regulasi yang ketat namun adaptif terhadap perkembangan aset kripto dan mata uang digital. Kolaborasi dengan platform global seperti Fasset dapat membantu mempercepat digitalisasi keuangan di daerah pelosok yang minim infrastruktur fisik perbankan. Namun, pemenuhan aspek kepatuhan terhadap hukum lokal tetap menjadi tantangan terbesar bagi setiap neobank asing yang ingin masuk.
Hossain juga menekankan bahwa fokus utama perusahaannya saat ini adalah membangun jembatan likuiditas yang aman bagi para pengguna. Hal tersebut dilakukan melalui kemitraan dengan bank-bank lokal berlisensi di setiap negara operasional.
Strategi lokalisasi ini terbukti mampu menekan risiko regulasi sekaligus meningkatkan kepercayaan pengguna baru secara signifikan.
Sebagai informasi tambahan, Fasset sebelumnya telah mengamankan beberapa lisensi penting di Uni Emirat Arab dan wilayah Timur Tengah lainnya. Wilayah-wilayah tersebut dikenal memiliki regulasi aset digital yang progresif dan ramah terhadap inovasi teknologi finansial. Kesuksesan di pasar Timur Tengah inilah yang kini coba direplikasi oleh Fasset di pasar Asia Pasifik.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor