Wisata Kesehatan Korea Selatan Melonjak, Perawatan Estetika Jadi Primadona

Sektor wisata kesehatan di Korea Selatan mencatatkan lonjakan signifikan sepanjang tahun 2026. Berdasarkan data terbaru, pengeluaran wisatawan mancanegara untuk layanan medis dan produk terkait meningkat hingga 66,5 persen pada bulan Juli dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Total nominal yang dibelanjakan turis asing mencapai 213 miliar Won atau sekitar Rp2,5 triliun hanya dalam kurun waktu satu bulan tersebut.
Data dari The Korea Herald menunjukkan bahwa dominasi pasar masih dipegang oleh prosedur kecantikan. Produk dermatologis menyerap 54,9 persen dari total anggaran turis, sementara tindakan operasi plastik menyumbang 19,3 persen dari keseluruhan transaksi.
Fenomena ini didukung oleh ketergantungan klinik pada pasar luar negeri. Bang Jun-Seop, Presiden Korean Association of Plastic Surgeon, mengungkapkan bahwa 70 persen pasien yang ditangani di klinik operasi plastik Korea Selatan merupakan warga negara asing.
Terdapat pola demografis yang cukup unik dalam pemilihan jenis layanan kesehatan oleh para wisatawan medis. Korea Health Industry Development Institute memetakan preferensi pasien berdasarkan wilayah asal mereka.
Wisatawan yang berasal dari Jepang, Taiwan, China, Singapura, serta Thailand cenderung meminati prosedur estetika seperti operasi plastik dan perawatan kulit. Sementara itu, pasien dari Kazakhstan, Kanada, dan Mongolia umumnya datang ke Korea Selatan untuk menjalani perawatan medis intensif, termasuk pengobatan penyakit serius seperti kanker.
Konsentrasi layanan medis ini masih berpusat di wilayah metropolitan. Ibu kota Seoul menjadi magnet utama dengan menyerap 86,8 persen dari total pengeluaran medis turis asing, diikuti oleh kota pelabuhan Busan yang berada di posisi kedua dengan porsi 6,4 persen.
Perkembangan pesat ini memberikan gambaran tentang bagaimana standar medis Korea Selatan dipandang oleh dunia internasional. Inovasi teknologi medis yang dipadukan dengan layanan gaya hidup membuat negara ini menjadi tujuan utama bagi mereka yang mencari perawatan berkualitas tinggi.
Tren wisata kesehatan ini ternyata juga mulai menggeliat di pasar domestik Indonesia. Estimasi pasar estetika medis di Indonesia diperkirakan akan menyentuh angka USD 495 juta atau setara Rp7,8 triliun pada tahun 2029.
Angka ini menunjukkan pertumbuhan pesat jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2023 yang berada di level USD 257 juta atau sekitar Rp4 triliun. Laju pertumbuhan tahunan majemuk diproyeksikan berada di angka 11,5 persen.
Infrastruktur pendukung juga menunjukkan sinyal positif dengan peningkatan jumlah klinik estetika berizin sekitar 60 persen dalam periode 2020 hingga 2025. Perkembangan ini mengindikasikan bahwa minat masyarakat terhadap prosedur kecantikan medis di dalam negeri kian meningkat, meski Korea Selatan tetap memegang dominasi sebagai tujuan wisata kesehatan global terkemuka.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor














