Aset Tokenisasi Berbeda dengan Pasar Tradisional, Begini Temuan Terbaru Dune

Pasar aset tokenisasi menunjukkan pola perdagangan yang berbeda jika dibandingkan dengan pasar keuangan tradisional. Hal ini terungkap melalui laporan terbaru dari platform data blockchain Dune yang menganalisis aktivitas on-chain serta off-chain.
Studi tersebut membandingkan berbagai instrumen keuangan mulai dari ekuitas, kredit, komoditas, hingga produk setara kas. Hasilnya, mekanisme investasi di dunia kripto kini memiliki dinamika yang unik dan tidak sekadar menduplikasi sistem lama.
Perbedaan paling mencolok terlihat pada sektor ekuitas. Saham tunggal mendominasi sebesar 81 persen dari total pasokan spot ekuitas yang ditokenisasi, sementara sisanya diisi oleh exchange-traded funds atau ETF sebesar 19 persen.
Sebagai konteks, ETF adalah instrumen investasi yang diperdagangkan seperti saham di bursa tetapi berisi kumpulan aset seperti indeks, komoditas, atau obligasi untuk diversifikasi risiko. Fenomena ini menunjukkan bahwa pelaku pasar lebih memilih kendali langsung atas aset yang mereka pegang.
Kepala Ekosistem Ondo Finance, Armand Khatri, menyatakan bahwa tokenisasi memberikan keleluasaan lebih kepada investor. Pengguna kini memiliki kemampuan memilih aset tanpa bergantung penuh pada penawaran perantara lokal di wilayah mereka.
Investor bebas menentukan instrumen yang diinginkan, baik melalui paparan terhadap satu perusahaan tertentu maupun indeks pasar secara luas. Kebebasan memilih ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi adopsi teknologi blockchain di sektor keuangan global.
Dune mencatat nilai aset dunia nyata yang ditokenisasi mencapai USD 34,5 miliar atau sekitar Rp537 triliun per 31 Agustus. Angka tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 140 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Produk setara kas saat ini masih mendominasi total pasokan aset di pasar tersebut. Meski demikian, segmen ekuitas mencatatkan diri sebagai bagian yang paling aktif diperdagangkan oleh para pelaku pasar sepanjang periode ini.
Data terpisah dari Binance Research menunjukkan pasar ekuitas tokenisasi berada di angka USD 4,43 miliar sekitar Rp69 triliun per 15 September. Jumlah ini melonjak 390 persen dalam setahun namun masih tergolong kecil jika dibandingkan pasar ekuitas global yang bernilai USD 151,9 triliun.
Potensi pertumbuhan sektor ini tetap terbuka lebar di masa depan. Binance memproyeksikan nilai aset ekuitas yang ditokenisasi dapat menyentuh angka USD 349 miliar pada tahun 2030 di bawah skenario dasar mereka.
Kendati demikian, transformasi ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Richard Teng selaku CEO Binance menekankan bahwa pergeseran besar dalam akses pasar ekuitas melalui teknologi blockchain tidak akan terjadi dalam semalam.
Regulator di Amerika Serikat turut mengambil langkah untuk memperluas cakupan perdagangan aset jenis ini. Securities and Exchange Commission atau SEC baru saja memberikan pengecualian sementara untuk perdagangan terbatas saham AS yang ditokenisasi di jaringan blockchain.
New York Stock Exchange bersama Blockchain.com juga tengah merancang platform perdagangan digital baru. Langkah ini bertujuan menawarkan saham serta ETF yang terdaftar di bursa AS melalui teknologi buku besar terdistribusi setelah memperoleh izin resmi.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor










