IHSG Merah 6 Hari Beruntun: Ternyata Ini Penyebab Saham Anjlok, Bikin Melongo!

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan rapor merah. Pada penutupan perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026, indeks acuan Bursa Efek Indonesia ini terperosok ke level 6.009,50 setelah melemah 61,64 poin atau sekitar 1,02 persen.
Pelemahan ini merupakan hari keenam beruntun bagi IHSG. Tren negatif tersebut membuat indeks semakin mendekati level psikologis krusial di angka 6.000.
Tekanan jual di pasar terjadi secara masif pada hari itu. Data mencatat 450 saham berakhir di zona negatif, sementara investor asing melakukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp241,86 miliar di seluruh pasar.
Apa yang sebenarnya terjadi di balik anjloknya pasar saham kita? Penjualan saham berkapitalisasi besar oleh asing menjadi pemicu utama.
Investor asing terpantau melepas sejumlah emiten berbobot tinggi seperti Bank Mandiri (BMRI) sebesar Rp68,49 miliar, GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) dengan nilai Rp68,25 miliar, serta Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar Rp41,12 miliar.
Selain itu, terdapat faktor eksternal yang cukup menekan sentimen investor global. Salah satunya adalah penguatan dolar AS yang menekan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS, sebuah level yang tidak terlihat sejak Agustus 2026.
Lonjakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang sempat menyentuh 5,34 persen turut memperkeruh suasana. Kenaikan yield ini merupakan yang tertinggi dalam kurun waktu 24 tahun terakhir.
Tingginya imbal hasil obligasi di Amerika Serikat membuat aset berdenominasi dolar menjadi pilihan investasi yang lebih menarik dibandingkan pasar negara berkembang seperti Indonesia. Kondisi ini memicu arus modal keluar atau capital outflow dari pasar saham domestik.
Belum lagi bayang-bayang konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia melonjak. Harga minyak Brent kini berada di atas USD 100 (sekitar Rp1,56 juta) per barel, yang memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan beban subsidi energi nasional.
Di sisi domestik, pasar sedang melakukan penyesuaian terhadap aturan baru terkait batas bawah harga saham. Perubahan mekanisme perdagangan ini dinilai memberikan tekanan tambahan pada beberapa emiten berkapitalisasi besar, termasuk GOTO.
Hingga Jumat pagi, 2 Oktober 2026, pasar masih menunjukkan volatilitas yang tinggi. Sempat dibuka menguat tipis ke level 6.018,08, IHSG tak berselang lama kembali berbalik arah ke zona merah di level 5.986,39.
Secara teknikal, pergerakan indeks kini berada di persimpangan jalan. Level 5.980 menjadi area pantauan utama, di mana penembusan ke bawah level tersebut bisa membawa IHSG meluncur menuju zona 5.900 hingga 5.870.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor











