
Harga Bitcoin saat ini sedang bergerak di kisaran level USD 81.500 atau sekitar Rp1,28 miliar seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Aset kripto utama ini mencatatkan penurunan harian sebesar 3 persen akibat sentimen negatif yang melanda pasar keuangan global.
Tekanan ini muncul setelah pernyataan Presiden Donald Trump terkait aksi militer di Iran memicu kekhawatiran pelaku pasar. Kondisi tersebut memaksa investor untuk melepas aset berisiko, termasuk mata uang kripto dan saham teknologi.
Data dari TradingView menunjukkan bahwa pasangan BTC/USD sempat menyentuh level terendah di angka USD 81.256 pada perdagangan Kamis pagi waktu Wall Street. Penurunan ini mencerminkan sikap kehati-hatian investor yang cenderung menghindari risiko atau melakukan aksi ambil untung setelah harga sempat mendekati level USD 85.000 sehari sebelumnya.
Pasar saham Amerika Serikat pun bereaksi negatif terhadap perkembangan ini. Indeks S&P 500 terkoreksi 1,3 persen, sementara indeks Nasdaq Composite yang didominasi sektor teknologi merosot 2,3 persen di awal pembukaan perdagangan.
Ian Lyngen, pakar dari BMO Capital Markets, menjelaskan bahwa saham teknologi tengah ditekan oleh kekhawatiran terhadap valuasi kecerdasan buatan atau AI yang dianggap terlalu tinggi. Selain itu, kenaikan harga energi menambah sentimen negatif bagi para pelaku pasar saham.
Secara bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kini mendekati angka 5 persen. Obligasi adalah surat utang negara yang dianggap lebih aman oleh investor ketika situasi dunia sedang memanas.
Pergerakan harga Bitcoin saat ini dianggap masih berada di sekitar basis biaya atau rata-rata modal yang dikeluarkan oleh para investor institusi melalui produk ETF Bitcoin spot. Level USD 81.500 menjadi titik krusial bagi pergerakan harga Bitcoin dalam jangka pendek.
Para analis dari Bitfinex Alpha memperkirakan bahwa harga BTC akan terus tertahan dalam rentang sempit antara USD 81.300 dan USD 84.400. Kondisi ini kemungkinan besar akan berlanjut hingga Federal Reserve atau bank sentral AS mengambil keputusan terkait kebijakan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober mendatang.
Permintaan yang stabil dari investor ETF dapat mendorong harga menembus batas atas di angka USD 84.400 jika metrik pasar tetap terjaga. Namun, jika harga ditutup di bawah USD 81.300, risiko koreksi menuju level terendah 15 Oktober di kisaran USD 79.821 akan terbuka lebar.
Sentimen negatif ini turut didorong oleh komentar Trump yang menegaskan bahwa Amerika Serikat saat ini tidak sedang melakukan negosiasi dengan pihak Iran. Pernyataan tersebut menimbulkan ketidakpastian mengenai eskalasi konflik yang mungkin terjadi setelah pemilu sela AS pada 3 November.
Ke depan, pasar masih menanti kepastian kebijakan moneter dari Federal Reserve sebagai indikator utama bagi aset berisiko. Bagi investor kripto, volatilitas di pasar global saat ini menuntut kehati-hatian ekstra dalam merespons setiap perubahan kebijakan geopolitik maupun ekonomi Amerika Serikat.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor
