Donald Trump Tunjuk Jay Clayton Pimpin Super Intelligence Force Amerika Serikat

Presiden Donald Trump resmi menunjuk Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, Jay Clayton, sebagai pemimpin lembaga baru yang disebut Super Intelligence Force.
Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui akun media sosialnya, Truth Social, pada Minggu waktu setempat. Langkah ini dilakukan setelah adanya laporan media mengenai rencana pembentukan badan khusus yang fokus pada pengembangan kecerdasan buatan tersebut.
Super Intelligence Force dirancang untuk mengoordinasikan berbagai upaya pemerintah federal dalam menjaga dominasi Amerika Serikat di bidang teknologi super intelijen global. Lembaga ini nantinya akan bertanggung jawab langsung kepada Presiden serta Kepala Staf Gedung Putih, Susie Wiles.
Pola kerja lembaga ini disebut-sebut mengadopsi model Space Force, yakni cabang militer khusus yang dibentuk untuk menjaga kepentingan strategis Amerika di ruang angkasa. Kehadiran badan ini menjadi penanda keseriusan pemerintah dalam mengelola risiko sekaligus peluang dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan di masa depan.
Clayton nantinya tidak akan bekerja sendiri dalam memimpin organisasi baru ini. Ia akan didampingi oleh sejumlah tokoh penting seperti Ketua Federal Trade Commission, Andrew Ferguson, serta Direktur Office of Personnel Management, Scott Kupor.
Selain itu, Emil Michael yang menjabat sebagai Wakil Menteri Perang bidang Riset dan Teknik akan turut bergabung dalam struktur kepemimpinan tersebut. Perlu diketahui bahwa di Amerika Serikat, jabatan menteri perang merupakan istilah yang merujuk pada pengelola departemen pertahanan negara dalam struktur birokrasi tertentu.
Jay Clayton bukanlah sosok baru dalam pemerintahan Trump. Ia sebelumnya pernah memimpin Securities and Exchange Commission, sebuah badan independen yang bertugas mengatur pasar modal dan melindungi investor di Amerika Serikat.
Ia juga sempat menjabat sebagai pelaksana tugas Jaksa Amerika Serikat untuk Distrik Selatan New York. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, Clayton diperkirakan akan tetap merangkap jabatan sebagai Direktur Intelijen Nasional sembari menjalankan tugas barunya di badan yang fokus pada intelijen super ini.
Keputusan penunjukan ini muncul menyusul dinamika persaingan teknologi global yang kian ketat. Kebutuhan akan koordinasi terpusat dalam pengembangan kecerdasan buatan dinilai menjadi alasan utama pembentukan badan khusus tersebut oleh pemerintah Amerika Serikat.
Clayton sendiri baru dikonfirmasi oleh Senat Amerika Serikat untuk memimpin komunitas intelijen negara itu pada Juli lalu. Pengalaman panjangnya di sektor hukum dan intelijen menjadi pertimbangan utama mengapa ia dipilih untuk mengisi jabatan strategis tersebut.
Pemerintah berharap integrasi antara sektor pertahanan, regulasi, dan intelijen ini mampu mempercepat inovasi teknologi. Fokus utamanya tetap pada upaya mempertahankan keunggulan kompetitif Amerika Serikat di panggung internasional melalui kecanggihan perangkat lunak dan sistem kecerdasan buatan yang mutakhir.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor









:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4946338/original/036837700_1726613456-Penyerang_Juventus.jpg)