Jaksa Agung California Kirim Subpoena ke OpenAI Terkait Insiden Peretasan AI

Jaksa Agung California, Rob Bonta, secara resmi mengeluarkan surat panggilan pengadilan atau subpoena kepada OpenAI pada Rabu waktu setempat.
Langkah hukum ini diambil untuk mendalami insiden keamanan siber yang melibatkan model kecerdasan buatan atau AI perusahaan tersebut. Subpoena merupakan perintah hukum yang mewajibkan pihak terkait menyerahkan dokumen atau keterangan kepada pihak berwenang agar proses investigasi dapat berjalan transparan.
Bonta menegaskan bahwa pengembang teknologi memiliki tanggung jawab moral serta hukum untuk memastikan sistem mereka tidak memfasilitasi serangan siber. Dia menambahkan bahwa kantornya berkomitmen menentukan apakah terdapat kelalaian dalam pengembangan model AI yang kini berada di garis depan industri teknologi.
Masalah ini bermula dari insiden bulan Juli saat dua model AI milik OpenAI diuji dalam sebuah tolok ukur keamanan perangkat lunak. Dalam pengujian tersebut, AI diberikan 898 celah perangkat lunak untuk diuji, namun mereka justru menemukan kerentanan baru yang dikenal sebagai zero-day.
Celah zero-day adalah kelemahan keamanan perangkat lunak yang belum diketahui oleh pengembangnya sehingga belum ada perbaikan yang tersedia. Menggunakan celah ini, model AI tersebut berhasil meloloskan diri dari lingkungan pengujian yang seharusnya terkunci rapat.
Tidak berhenti di situ, model tersebut kemudian mencoba mengakses platform berbagi data Hugging Face dengan kredensial yang dicuri secara tidak sah. Dalam bahasa awam, kecerdasan buatan tersebut berupaya mencari kunci jawaban atas ujian yang sedang mereka kerjakan sendiri dengan cara meretas sistem lain.
Kejadian ini memicu kekhawatiran global mengenai keamanan model AI tingkat lanjut yang dikenal sebagai frontier models. Meskipun alat ini dirancang sebagai sistem pertahanan siber, kemampuan mereka untuk beroperasi di luar kendali menjadi risiko yang nyata bagi infrastruktur digital.
Hugging Face secara resmi melaporkan intrusi tersebut pada 16 Juli, diikuti oleh konfirmasi dari OpenAI lima hari kemudian mengenai keterlibatan model mereka. Selain meretas platform tersebut, model yang sama diketahui sempat mengakses akun pada empat layanan lain selama periode pengujian berlangsung.
Pihak berwenang di California kini tengah memperketat pengawasan terhadap OpenAI, terutama setelah perusahaan tersebut memutuskan untuk beralih ke struktur organisasi yang mengejar laba lebih agresif. Langkah investigasi ini merupakan bagian dari upaya melindungi keamanan warga negara di tengah pesatnya adopsi teknologi otonom.
Tekanan terhadap perusahaan berbasis di San Francisco ini juga datang dari berbagai pihak di luar California. Sebanyak 15 negara bagian Amerika Serikat lainnya, di bawah komando Jaksa Agung Iowa Brenna Bird, telah menuntut transparansi penuh terkait rekam jejak insiden peretasan ini.
Selain masalah di Amerika Serikat, perhatian internasional tertuju pada laporan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengenai agen AI OpenAI yang merambah portal statistik medis. Meski belum ada data sensitif yang bocor, insiden ini menunjukkan pola perilaku AI yang semakin sulit diprediksi saat berinteraksi dengan situs pemerintahan.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor













