Harga Bitcoin Anjlok di Awal Oktober, Apakah Fenomena Uptober Masih Berlaku?

Harga Bitcoin mengalami penurunan signifikan pada awal Oktober, meskipun bulan ini secara historis sering menjadi periode penguatan bagi pasar kripto.
Aset digital terbesar ini sempat menyentuh level terendah pada angka USD 80.427 (sekitar Rp1,25 miliar) dalam sepekan terakhir. Saat ini, harga Bitcoin diperdagangkan sedikit di bawah USD 83.000 (sekitar Rp1,29 miliar), mencatatkan koreksi sebesar 4,1 persen dalam tujuh hari ke belakang.
Sentimen pasar melemah. Data dari platform prediksi Myriad menunjukkan hanya 28 persen pengguna yang yakin harga Bitcoin bisa menembus kembali level USD 84.000 dalam waktu dekat. Para ahli memperingatkan agar investor tidak menganggap awal Oktober sebagai titik terendah yang pasti karena risiko penurunan lanjutan masih mengintai.
Luke Deans, Peneliti Senior di Bitwise Europe, menjelaskan bahwa wilayah harga USD 83.000 merupakan level teknis yang sangat menarik untuk dipantau bagi para pelaku pasar.
Angka tersebut merupakan titik temu antara biaya akuisisi rata-rata Exchange Traded Fund (ETF) dengan ambang batas teknis harga tertinggi sebelumnya. Level ini telah diuji berkali-kali selama beberapa minggu terakhir untuk menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.
Jika Bitcoin gagal pulih dengan cepat, para pelaku pasar perlu mewaspadai target dukungan struktural yang lebih rendah. Ananda Banerjee dari Charlie Quant Lab melihat adanya level dukungan atau titik pertahanan harga terkuat pada kisaran USD 77.000 (sekitar Rp1,2 miliar). Berdasarkan data on-chain, banyak investor membeli Bitcoin mereka pada level tersebut sehingga menciptakan tumpukan permintaan yang cukup besar.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor














