Macron dan Steinmeier Berupaya Pulihkan Hubungan Perancis dan Jerman

Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier bertemu di Paris untuk membahas masa depan hubungan bilateral kedua negara yang mulai meredup.
Pertemuan ini menjadi sangat krusial mengingat masa jabatan kedua pemimpin tersebut akan segera berakhir. Hubungan Perancis dan Jerman sering dianggap sebagai motor penggerak utama Uni Eropa, namun belakangan ini kemitraan tersebut dinilai kehilangan momentum.
Delegasi Jerman melintasi jalanan Paris yang sedang dilanda aksi mogok mahasiswa, namun iring-iringan kendaraan tetap melaju tanpa hambatan berarti. Kawasan sekitar Arc de Triomphe dan Champs-Elysees sempat mengalami kemacetan parah selama berjam-jam karena penutupan jalan secara luas untuk protokol keamanan. Penjagaan ketat ini dilakukan demi menjamin kelancaran kunjungan tamu negara di tengah situasi politik domestik yang cukup hangat.
Macron memberikan penghormatan militer kepada Steinmeier di bawah monumen ikonik Arc de Triomphe sebagai bentuk penghormatan khusus bagi sahabatnya.
Lagu kebangsaan Jerman bergema di jantung kota Paris pada pagi hari yang cerah namun sangat dingin. Langkah ini merupakan gestur persahabatan yang penuh simbolisme, meskipun banyak pihak menganggapnya sebagai sisa-sisa kemegahan dari era yang mulai berlalu.
Di kedua negara tersebut, kelompok populis dari spektrum politik sayap kiri dan kanan terus mendapatkan dukungan luas dari masyarakat. Di Jerman, partai sayap kanan Alternative for Germany atau AfD kini menempati urutan pertama dalam berbagai jajak pendapat nasional. Sementara itu, Emmanuel Macron di Perancis terancam akan digantikan oleh Jean-Luc Melenchon dari sayap kiri jauh atau Marine Le Pen dari sayap kanan jauh pada pemilu mendatang.
Krisis ekonomi yang mengancam kesejahteraan masyarakat turut menambah beban bagi kepemimpinan kedua presiden ini.
Masalah keadilan sosial yang belum terselesaikan memicu generasi muda untuk turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka. Pada saat yang sama, media sosial semakin sering menjadi alat penyebaran disinformasi yang mempercepat keraguan masyarakat terhadap sistem demokrasi.
Meskipun AfD berpeluang membentuk pemerintahan negara bagian pertamanya di Saxony-Anhalt, Presiden Steinmeier tetap menunjukkan sikap optimistis terhadap masa depan. Beliau menegaskan bahwa Jerman akan terus memainkan peran utama di Eropa dan rakyat Jerman akan tetap menjadi warga Eropa yang baik. Namun, Steinmeier tidak menjelaskan secara rinci dari mana keyakinan tersebut berasal dalam konferensi pers bersama di Istana Elysee yang tidak membuka sesi tanya jawab bagi jurnalis.
Pakar ilmu politik Jacob Ross menilai ketiadaan sesi tanya jawab tersebut merupakan hal yang wajar dalam situasi saat ini.
Ross berpendapat bahwa Macron dan Steinmeier tidak memiliki agenda nyata yang kuat untuk masa depan Jerman, Perancis, maupun Eropa. Kedua pemimpin ini dianggap mewakili sistem politik yang berusaha merespons krisis abad ke-21 dengan solusi dari abad ke-20.
Meskipun Steinmeier dan Macron memiliki gaya politik yang berbeda, terdapat kemiripan dalam titik kegagalan kebijakan mereka. Salah satu contohnya adalah kebijakan luar negeri strategis, khususnya dalam menangani hubungan dengan Rusia sebelum konflik besar pecah. Selama bertahun-tahun mereka mengejar kebijakan yang didasarkan pada integrasi Rusia ke dalam struktur Eropa, namun keduanya terkejut oleh peristiwa tahun 2022 sehingga harus mengubah arah kebijakan secara mendadak.
Emmanuel Macron sebenarnya telah mengajukan beberapa langkah berani untuk kemajuan Eropa, namun usulan tersebut seringkali kurang mendapat dukungan dari Berlin.
Kepemimpinan politik Jerman selama ini cenderung bereaksi dengan sangat hati-hati terhadap berbagai proposal yang datang dari Paris. Perbedaan kecepatan dalam mengambil keputusan ini seringkali menjadi penghambat bagi kemajuan integrasi Uni Eropa yang lebih dalam.
Baru-baru ini, kedua negara mempromosikan inisiatif bersama kepada Komisi Eropa untuk memerangi praktik persaingan tidak sehat di pasar internasional. Negara yang mendapatkan keuntungan melalui praktik yang tidak jujur akan menghadapi tindakan tegas dari otoritas Eropa. Langkah ini didukung penuh oleh Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz untuk melindungi industri dalam negeri mereka.
Meskipun tidak menyebutkan nama negara secara eksplisit, inisiatif tersebut diyakini menyasar kebijakan perdagangan China.
Beijing diketahui memberikan subsidi dalam jumlah besar kepada perusahaan mereka sehingga produk China dapat membanjiri pasar Eropa dengan harga sangat murah. Di sisi lain, perusahaan asal Eropa masih menghadapi berbagai hambatan besar saat mencoba mengakses pasar domestik di China.
Jerman dan Perancis juga telah lama berupaya meningkatkan kerja sama di sektor pertahanan yang menjadi pilar keamanan kawasan. Namun, proyek pertahanan bersama yang besar ternyata mengalami kemajuan yang sangat lambat. Ketika rencana pengembangan jet tempur bersama yang dikenal sebagai FCAS gagal pada Juni lalu, para pejabat justru menekankan kerja sama pada proyek tank tempur masa depan yang disebut MGCS.
Ketegangan mengenai proyek tank ini justru muncul ke permukaan saat kunjungan kenegaraan tersebut berlangsung.
Ketika Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius tiba di Paris, Kepala Staf Umum Perancis Fabien Mandon menyatakan dalam sebuah sidang bahwa Jerman telah memutuskan untuk mundur dari proyek tank tersebut. Mandon kemudian memberikan klarifikasi bahwa pernyataannya tersebut ambigu, namun pengamat melihat insiden ini sebagai tanda adanya ketidakpuasan di level teknis kerja sama kedua negara.
Pihak kementerian kemudian harus turun tangan untuk meluruskan kesalahpahaman yang berpotensi merusak hubungan diplomatik ini. Pistorius dengan tegas membantah klaim bahwa proyek tersebut akan dihentikan atau dibatalkan oleh salah satu pihak. Beliau menyatakan bahwa MGCS adalah proyek inti dari kerja sama Perancis dan Jerman dalam sistem persenjataan darat yang tetap berjalan sesuai rencana.
Fokus utama dari proyek tank masa depan ini adalah pada pemrosesan informasi digital dalam pertempuran serta penggunaan sistem nirawak.
Jerman dan Perancis akan melanjutkan kerja sama ini karena MGCS merupakan proyek masa depan yang sangat penting bagi angkatan bersenjata kedua negara. Teknologi otomatisasi yang dikembangkan diharapkan mampu memberikan keunggulan taktis di medan perang modern yang semakin kompleks.
Pada hari Jumat, kedua presiden mengunjungi fasilitas kedirgantaraan di dekat Bordeaux yang terkait erat dengan eksplorasi ruang angkasa dan pertahanan nuklir. Fasilitas tersebut mencakup ArianeGroup, sebuah perusahaan patungan Perancis dan Jerman yang memproduksi rudal balistik M51 untuk kapal selam nuklir Perancis. Kunjungan ini juga menyasar beberapa perusahaan rintisan yang fokus pada pengembangan teknologi masa depan.
Laporan tidak resmi menyebutkan bahwa fokus kunjungan ke fasilitas nuklir ini merupakan prioritas pribadi bagi Macron.
Presiden Perancis tersebut sudah lama menyuarakan tentang dimensi Eropa dalam kekuatan penangkal nuklir yang dimiliki Perancis. Mengingat adanya pengumuman dari Amerika Serikat yang berencana mengurangi komitmen militernya di Eropa, pandangan Macron ini mulai mendapatkan perhatian serius dari negara-negara tetangga.
Sejak tahun 2020, Macron telah mengusulkan dialog strategis mengenai peran senjata nuklir Perancis dalam sistem keamanan kolektif di Eropa. Beberapa negara, termasuk Jerman, mulai menyatakan minatnya untuk mendalami proposal tersebut melalui langkah-langkah yang lebih konkret. Fokus utamanya adalah pada apa yang disebut Macron sebagai pencegahan tingkat lanjut, seperti latihan militer bersama dan kunjungan ke lokasi strategis.
Penempatan permanen senjata nuklir Perancis di negara lain dipastikan tidak masuk dalam agenda pembahasan tersebut.
Berdasarkan doktrin nuklir Perancis, keputusan akhir mengenai penggunaan senjata nuklir tetap berada sepenuhnya di tangan otoritas Perancis. Kunjungan kenegaraan Steinmeier selama dua hari ini berakhir pada Jumat sore tanpa adanya tanda-tanda momentum baru yang signifikan bagi hubungan kedua negara.
Kondisi ini membuat tugas bagi penerus kedua presiden menjadi semakin mendesak untuk mengembangkan visi bersama mulai tahun depan. Macron dan Steinmeier akan mengakhiri masa jabatan mereka hampir secara bersamaan pada tahun 2027 setelah sepuluh tahun memimpin. Kunjungan ke Perancis ini pun menjadi pertemuan terakhir yang diwarnai dengan berbagai seremoni perpisahan kenegaraan yang formal.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor












