
Harga Bitcoin terpantau mengalami fluktuasi di kisaran 86.000 dollar AS atau setara Rp1,36 miliar setelah sempat mencatatkan penutupan mingguan tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Pergerakan harga Bitcoin ini cenderung tertahan seiring dengan naiknya imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang menekan minat investor pada aset berisiko secara global.
Data dari TradingView menunjukkan bahwa pasangan BTC/USD kesulitan untuk menembus level pembukaan mingguan di angka 86.500 dollar AS (sekitar Rp1,37 miliar).
Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan pasar kripto pada awal pekan ini. Imbal hasil obligasi merupakan tingkat keuntungan yang didapatkan investor dari surat utang pemerintah, yang mana kenaikannya sering kali membuat aset berisiko seperti kripto menjadi kurang menarik. Tekanan ini muncul karena investor cenderung beralih ke instrumen yang lebih aman saat bunga obligasi meningkat.
Yield obligasi tenor 30 tahun kembali melewati angka 5,67 persen atau hanya terpaut sedikit dari level tertinggi dalam 24 tahun terakhir. Sementara itu, yield tenor 10 tahun kembali menyentuh 5,31 persen setelah sempat mencapai puncaknya di angka 5,34 persen pada pekan sebelumnya.
Perusahaan perdagangan QCP Capital menilai bahwa data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang mulai mendingin belum cukup untuk menenangkan pasar obligasi.
Ketidakpastian geopolitik global yang terus berlanjut membuat pasar tetap berada dalam posisi waspada. Selain itu, harga minyak yang tinggi turut membatasi momentum kenaikan aset berisiko karena dapat memicu inflasi kembali memanas.
Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat dibuka sedikit menguat dengan indeks S&P 500 naik 0,5 persen dan Nasdaq Composite meningkat 0,7 persen. Para pelaku pasar memprediksi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve akan menghentikan kenaikan suku bunga pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mendatang. Ekspektasi ini memberikan sedikit napas bagi pasar saham di tengah tekanan pasar obligasi yang cukup berat.
Para analis dari Deutsche Bank memperkirakan notulensi rapat FOMC bulan September yang akan dirilis pada hari Rabu memiliki pengaruh yang lebih besar dari biasanya. Hal ini disebabkan oleh aksi jual obligasi yang cukup masif dalam beberapa waktu terakhir.
Pasar obligasi yang sangat tidak menentu membuat setiap data masuk dan komunikasi dari pejabat Federal Reserve menjadi sangat relevan bagi investor. Notulensi tersebut akan dicermati untuk melihat bagaimana komite memandang siklus pengetatan moneter saat ini. Investor juga ingin mengetahui diskusi internal mengenai tingkat suku bunga netral yang estimasinya sempat bergeser lebih tinggi dalam proyeksi ekonomi terbaru.
Aksi harga Bitcoin saat ini masih tertahan di bawah level resistensi psikologis 87.570 dollar AS (sekitar Rp1,38 miliar).
Platform analisis onchain Glassnode melaporkan adanya penurunan dominasi pembeli jika dibandingkan dengan pertengahan September lalu. Saat itu, harga Bitcoin berhasil kembali ke level 87.000 dollar AS untuk pertama kalinya dalam periode delapan bulan.
Glassnode menjelaskan bahwa fenomena ini mencerminkan adanya moderasi dalam momentum kenaikan harga yang agresif. Meskipun demikian, kondisi ini belum menunjukkan adanya sinyal pembalikan tren harga ke arah menurun atau kelelahan struktur pasar. Bitcoin tetap mampu mempertahankan keuntungan yang diraih sejak September meskipun aksi ambil untung oleh para investor masih berlangsung cukup masif.
Pergerakan Bitcoin yang dimiliki oleh pemegang jangka panjang menjadi perhatian khusus saat harga berada di atas level 85.000 dollar AS. Kelompok investor ini biasanya sangat menentukan stabilitas harga di pasar karena kecenderungan mereka untuk menyimpan aset dalam waktu yang lama.
Laporan ini disusun dengan independensi jurnalistik penuh untuk memberikan analisis mendalam mengenai perkembangan industri kripto, blockchain, dan teknologi finansial global.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor