
Heatbit meluncurkan elemen pemanas air penambang Bitcoin bernama Bitwater yang mampu menghasilkan aset kripto sekaligus memanaskan tangki air rumah tangga. Alat inovatif ini dijual seharga USD 899 atau sekitar Rp14,6 juta untuk pemesanan awal.
Perangkat buatan produsen asal Amerika Serikat tersebut mengintegrasikan teknologi komputasi kripto langsung ke dalam sistem utilitas rumah sehari-hari.
Bitwater menggantikan kawat resistansi standar pada pemanas air listrik dengan 20 cip penambang Bitcoin tipe Bitmain BM1370. Panas yang dihasilkan cip saat memproses data transaksi kripto disalurkan langsung untuk menghangatkan air di dalam tangki. Konsep ini memanfaatkan konsumsi daya listrik yang memang ditujukan untuk kebutuhan air panas rumah tangga secara lebih berdaya guna.
Secara teknis, alat ini memiliki daya komputasi hingga 34 terahash per detik dengan konsumsi daya sebesar 600 watt. Karena menggunakan air sebagai pendingin alami, perangkat bekerja tanpa kipas mekanis sehingga tidak menimbulkan suara bising.
Pemasangan Bitwater dirancang secara mandiri oleh pengguna tanpa perlu mengubah instalasi pipa atau jaringan listrik baru. Komponen ini cocok untuk port standar satu inci pada tangki pemanas listrik berkapasitas 113 hingga 302 liter. Beberapa merek populer yang kompatibel meliputi A. O. Smith, Rheem, Bradford White, Whirlpool, hingga GE.
Daya sebesar 600 watt tersebut jauh lebih rendah dibandingkan elemen pemanas konvensional yang rata-rata membutuhkan listrik hingga 4.500 watt.
Elemen pemanas tradisional biasanya bekerja cepat lalu mati setelah suhu tercapai. Sementara itu, Bitwater bekerja dengan pola pemanasan bertahap dalam durasi operasional yang jauh lebih lama.
Apabila terjadi lonjakan kebutuhan air panas secara mendadak, elemen pemanas bagian atas pada tangki utama akan aktif sebagai penopang cadangan. Pengguna juga dapat memantau suhu air, kecepatan penambangan, serta potensi pendapatan melalui aplikasi di ponsel pintar. Seluruh Bitcoin hasil penambangan akan langsung ditransfer ke dompet digital milik pengguna sendiri.
Pengiriman unit pertama dari tahap pra-pesan ini dijadwalkan mulai berlangsung pada kuartal pertama tahun 2027.
Berdasarkan data Hashrate Index, estimasi pendapatan kasar dari perangkat berkapasitas 34 terahash per detik berkisar antara USD 1 hingga USD 1,25 per hari atau sekitar Rp16.200 hingga Rp20.200. Angka tersebut setara dengan hasil bulanan sekitar Rp500.000 hingga Rp600.000, tergantung pada pergerakan harga Bitcoin dan tingkat kesulitan jaringan. Perusahaan mengklaim elemen ini dirancang untuk beroperasi secara terus-menerus lebih dari 80 persen dari total waktu harian.
Langkah Heatbit menghadirkan alat ini bertujuan untuk menyebarkan aktivitas penambangan Bitcoin ke skala rumah tangga. Konsumsi listrik dunia untuk memanaskan air mencapai 300 terawatt jam per tahun, jauh melampaui kebutuhan seluruh jaringan Bitcoin yang sebesar 170 terawatt jam.
Inisiatif ini muncul di tengah tren penambang skala industri yang mulai mengalihkan kapasitas daya mereka ke sektor kecerdasan buatan. Laporan lembaga riset Bernstein mencatat penambang kripto besar telah menandatangani kesepakatan daya hingga 6 gigawatt bernilai lebih dari USD 110 miliar (sekitar Rp1.782 triliun) dengan raksasa teknologi seperti Google, Amazon, dan Nvidia. Pengalihan infrastruktur ini memicu kekhawatiran akan semakin tersentralisasinya jaringan pemprosesan Bitcoin.
Sektor penambangan mandiri di rumah kini dipandang sebagai opsi untuk menjaga sifat desentralisasi jaringan mata uang digital tersebut.
Pendiri Heatbit, Alex Busarov, sebelumnya merilis pemanas ruangan berbasis penambang Bitcoin pada 2023 seharga USD 700 (sekitar Rp11,3 juta). Ia menilai perangkat serbaguna ini akan selalu memberikan nilai tambah ekonomis karena panas yang dihasilkan menggantikan fungsi alat pemanas konvensional.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor