
Rilis pembaruan perangkat lunak resmi dari tim pengembang telah diluncurkan setelah penemuan celah keamanan PHP berjuluk PHP2Shell memicu kepanikan global. Temuan dua bug fatal tersebut sempat memaksa sejumlah lembaga pemerintah di berbagai negara mematikan situs web resmi mereka demi mencegah peretasan.
Meskipun perbaikan sistem kini telah tersedia, ancaman belum sepenuhnya mereda karena gelombang serangan siber yang menargetkan server rentan masih terus berlangsung.
PHP merupakan bahasa pemrograman utama yang menjalankan sekitar 70 persen situs web di seluruh dunia, termasuk mayoritas portal berita, layanan e-commerce, hingga sistem pemerintahan di Indonesia. Kerentanan PHP2Shell memungkinkan pihak luar mengambil alih kendali server secara penuh tanpa perlu melakukan login terlebih dahulu. Kondisi ini menempatkan jutaan server berbasis PHP dalam posisi berisiko tinggi jika pengelola tidak segera melakukan pembaruan.
Tim pengembang resmi telah merilis versi perbaikan, yaitu PHP 8.5.12, 8.4.27, 8.3.36, dan 8.2.35. Namun, proses pembaruan tidak terjadi secara otomatis sehingga setiap penyedia jasa server, departemen teknologi informasi, hingga pemilik situs web independen harus memasangnya secara manual.
Langkah menutup celah ini mewajibkan pengelola melakukan penginstalan ulang dan menyalakan kembali sistem server agar perbaikan dapat aktif secara sempurna.
Masalah menjadi lebih rumit bagi pengguna versi lama seperti PHP 8.1 ke bawah yang sudah tidak lagi mendapatkan dukungan pembaruan resmi. Lembaga riset keamanan siber Mallory mencatat setidaknya ada 884.000 server terkoneksi internet yang masih menjalankan PHP versi usang tanpa proteksi resmi tersebut. Di Indonesia sendiri, penggunaan server berversi lama masih marak ditemui pada infrastruktur digital instansi daerah maupun pelaku usaha mikro.
Intensitas peretasan melonjak drastis tak lama setelah kerentanan ini dipublikasikan kepada publik. Chief Executive Officer Cloudflare, Matthew Prince, mengungkapkan bahwa jaringannya menghentikan ribuan percobaan eksploitasi dalam sepuluh jam sebelum pengumuman resmi.
Angka tersebut melonjak menjadi puluhan ribu percobaan hanya dalam waktu 45 menit setelah informasi dirilis, sebelum akhirnya menembus jutaan serangan mendadak. Sementara itu, Amazon menemukan bukti bahwa server umpan milik mereka sudah diserang sejak 17 Oktober, atau empat hari sebelum celah tersebut diumumkan secara terbuka. Hal ini mengindikasikan bahwa peretas telah mengetahui dan memanfaatkan celah tersebut sebelum pihak pengembang sempat menerbitkan tambalan resmi.
Otoritas keamanan siber dari beberapa negara melaporkan belum ada pembobolan data berskala besar yang terkonfirmasi hingga saat ini.
Badan Keamanan Informasi Federal Jerman (BSI) menyatakan bahwa meskipun jutaan lalu lintas serangan terdeteksi, belum ada peretas yang berhasil menembus benteng pertahanan mereka. Hal serupa disampaikan Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, yang mengonfirmasi bahwa belum ada insiden peretasan yang terbukti memanfaatkan celah PHP2Shell. Namun, para ahli memperingatkan bahwa kebocoran data sering kali baru terdeteksi beberapa minggu setelah penyusupan awal terjadi.
Keterlambatan penanganan awal sempat menjadi sorotan tajam karena PHP Foundation mengakui adanya kendala internal dalam proses penanganan bug. Keterbatasan sumber daya manusia dan mekanisme pengembalian keputusan berdasarkan konsensus sempat memperlambat rilis tambalan keamanan ini.
Atas kejadian ini, PHP Foundation memutuskan mengubah sistem pengambilan keputusan tim keamanan dari mekanisme konsensus menjadi suara terbanyak agar penanganan krisis dapat berjalan lebih cepat pada masa mendatang.
Dampak perbaikan yang memerlukan penghentian sementara sistem sempat melumpuhkan berbagai layanan publik di Eropa. Layanan transportasi umum, puluhan portal pemerintah Inggris, fasilitas rumah sakit di Belanda, hingga penyedia IT pemerintah Jerman terpaksa dinonaktifkan sementara. Langkah penutupan sementara ini diambil sesuai rekomendasi Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) guna menghindari potensi peretasan sebelum sistem berhasil ditambal.
Bagi pengguna internet awam, situasi ini tidak menuntut perubahan kata sandi secara massal jika tidak ada pemberitahuan kebocoran dari pihak penyedia layanan. Meski demikian, kewaspadaan ekstra tetap diperlukan, terutama bagi para pengguna dan investor aset kripto yang sering melakukan transaksi melalui dompet digital di situs web.
Peretas yang berhasil menguasai server PHP dapat menampilkan halaman tiruan yang berpotensi menyedot seluruh aset digital saat pengguna menyetujui transaksi. Pendiri platform Binance, Changpeng Zhao, mengimbau masyarakat untuk memeriksa kembali alamat domain situs web dan disarankan menggunakan perangkat keras dompet penyimpanan dingin (hardware wallet) demi menjaga keamanan transaksi. Para administrator server di Indonesia juga diimbau segera melakukan pemindaian berkas mencurigakan serta memperbarui seluruh kunci akses database server mereka.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor