Kapasitas Transaksi Solana Naik 3 Kali Lipat, Dekati Dominasi Ethereum

Jaringan blockchain Solana baru saja meluncurkan pembaruan sistem yang meningkatkan batas kapasitas data transaksi Solana hingga lebih dari tiga kali lipat. Pembaruan bertajuk Transaction V1 ini dirancang untuk memangkas kesenjangan teknis dengan kompetitor utamanya, Ethereum.
Melalui peningkatan ini, batas ukuran maksimal untuk setiap transaksi melonjak dari yang sebelumnya hanya 1.232 byte menjadi 4.096 byte. Kapasitas yang lebih lapang memberikan keleluasaan bagi para pengembang aplikasi terdesentralisasi untuk menyusun instruksi yang lebih rumit dalam satu pengiriman data. Langkah maju ini dinilai akan mengubah lanskap efisiensi biaya dan kecepatan di jaringan tersebut.
Sebelum pembaruan ini dirilis, keterbatasan ruang data sering kali memaksa pengembang memecah satu rangkaian transaksi menjadi beberapa bagian yang terpisah.
Proses pemecahan transaksi tersebut berimbas pada biaya gas yang lebih tinggi serta risiko kegagalan transaksi yang lebih besar bagi pengguna. Kini, dengan kapasitas mencapai 4.096 byte, Solana mampu memproses aktivitas kompleks seperti perdagangan multi-langkah dalam satu ketukan saja.
Selain mempermudah transaksi multi-langkah, ruang penyimpanan baru ini sangat berguna untuk persetujuan dompet multi-tanda tangan milik korporasi yang membutuhkan enkripsi ekstra. Protokol privasi mutakhir seperti pembuktian tanpa pengetahuan atau zero-knowledge proofs juga kini memiliki ruang yang cukup untuk beroperasi langsung di atas jaringan. Teknologi privasi ini sebelumnya sulit diterapkan secara efisien di Solana karena ukuran datanya yang sangat besar.
Ethereum selama ini mendominasi sektor keuangan terdesentralisasi justru karena fleksibilitas ukuran datanya yang jauh melampaui standar lama Solana.
Meskipun Ethereum terkenal lambat dan mahal, para pengembang global tetap bertahan di sana demi keleluasaan arsitektur aplikasi yang ditawarkan. Penambahan kapasitas pada Solana ini diproyeksikan akan menarik minat para pengembang Ethereum untuk melirik ekosistem yang lebih ekonomis.
Bagi komunitas Web3 di Indonesia, peningkatan performa ini membawa angin segar bagi perkembangan proyek kripto lokal. Banyak pengembang aplikasi keuangan terdesentralisasi di tanah air yang mulai melirik Solana karena biaya transaksinya yang hanya berkisar beberapa rupiah saja. Kehadiran kapasitas data yang lebih besar ini diperkirakan akan memicu lahirnya berbagai inovasi aplikasi finansial baru yang lebih ramah bagi pengguna awam di Indonesia.
Para pelaku pasar aset kripto merespons positif peningkatan teknis ini seiring dengan pulihnya volume perdagangan harian di jaringan tersebut.
Dengan biaya transaksi rata-rata di bawah Rp100 per operasi, peningkatan ini menempatkan Solana pada posisi yang tangguh untuk bersaing di pasar global. Arsitektur baru ini diharapkan mampu meredam kekhawatiran klasik mengenai kestabilan jaringan saat menghadapi lonjakan lalu lintas data yang padat.
Kapasitas transaksi yang lebih besar ini tidak akan mengorbankan kecepatan pemrosesan blok yang selama ini menjadi keunggulan utama jaringan. Para validator jaringan dilaporkan telah menyelesaikan proses transisi ke protokol baru ini tanpa kendala operasional yang berarti. Langkah inovatif ini menjadi babak baru dalam kompetisi panjang antara kedua raksasa blockchain tersebut untuk memperebutkan dominasi pasar global.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor










