Kecanggihan AI Griffin: Mampu Menipu Manusia dalam Panggilan Video Real-Time

Kecerdasan buatan atau AI kini semakin sulit dibedakan dengan manusia saat berinteraksi melalui panggilan video. Perusahaan rintisan asal Amerika Serikat, Tavus, baru saja memperkenalkan model AI terbaru mereka bernama Griffin yang diklaim mampu meyakinkan hampir separuh lawan bicaranya bahwa mereka sedang berbicara dengan orang sungguhan.
Dalam uji coba yang dirilis perusahaan pada 1 Oktober lalu, sebanyak 48 persen peserta yang berinteraksi dengan Griffin-Lite merasa yakin bahwa mereka tengah berbicara dengan manusia. Angka ini mencerminkan lonjakan besar dibandingkan sistem sebelumnya yang hanya mampu menipu sekitar 2,4 persen responden.
Metode pengujian yang dilakukan Tavus melibatkan 54 orang dalam panggilan video berdurasi satu menit. Para peserta hanya diberitahu bahwa mereka akan berbicara dengan orang lain mengenai rencana tahun ini, tanpa ada peringatan bahwa lawan bicara mereka mungkin adalah mesin.
Hasil ini memicu diskusi hangat di komunitas teknologi global karena Griffin tidak hanya memproses teks, melainkan mampu meniru ekspresi wajah, jeda bicara, serta intonasi suara secara real-time. Teknologi ini bekerja dengan sistem full-duplex yang memungkinkan AI mendengarkan, melihat, dan merespons secara simultan layaknya percakapan telepon biasa.
Meski terlihat impresif, pihak Tavus mengakui bahwa hasil riset mereka belum mendapatkan verifikasi independen yang sepenuhnya sesuai dengan protokol standar. Beberapa pengamat di platform media sosial X bahkan memberikan catatan bahwa metode pengujian ini berbeda dengan Uji Turing klasik yang legendaris.
Pakar keamanan siber mulai menyoroti ancaman nyata di balik inovasi ini, terutama risiko penipuan deepfake yang semakin canggih. Perlu diingat bahwa pada awal 2025, peretas yang terafiliasi dengan Korea Utara sempat menggunakan teknologi serupa untuk memanipulasi panggilan Zoom dan Teams guna menyebarkan perangkat lunak berbahaya.
Kehadiran Griffin membawa kekhawatiran baru bagi dunia keamanan digital. Foto dan video yang selama ini dianggap sebagai bukti otentik kini bukan lagi jaminan keamanan mutlak dalam berkomunikasi.
Perusahaan seperti Kraken pun telah memperketat prosedur verifikasi karyawan dengan mengajukan pertanyaan acak yang tidak terduga untuk mengungkap identitas asli pelamar kerja. Strategi ini menjadi salah satu cara efektif untuk membedakan antara manusia asli dan kecerdasan buatan.
Hingga saat ini, Griffin-Lite belum dirilis untuk publik secara luas dan hanya tersedia bagi penguji tepercaya yang terdaftar secara resmi. Tavus menyatakan bahwa mereka masih memerlukan waktu untuk mengembangkan fitur keamanan dan transparansi agar teknologi ini tidak disalahgunakan oleh pihak yang berniat jahat.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor










