Ledger Tarik Perangkat Dompet Kripto di Asia Usai Temuan Praktik Peretasan

Perusahaan pengembang dompet perangkat keras kripto, Ledger, secara resmi meminta seluruh pengecer dan distributor di Asia Tenggara serta Hong Kong untuk menghentikan penjualan produk mereka.
Keputusan ini diambil setelah ditemukan adanya perangkat yang telah dimodifikasi dengan chip tambahan tersembunyi. Langkah pencegahan ini mencakup pasar di Indonesia, Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Hong Kong.
Investigasi awal menunjukkan bahwa chip implan tersebut bekerja dengan cara mencuri 24 kata pemulihan atau recovery phrase yang muncul di layar perangkat saat pengaturan awal. Data sensitif ini kemudian dikirimkan melalui koneksi LTE kepada pihak luar agar pelaku dapat mengakses dan menguras dana milik pengguna.
Ledger menegaskan bahwa infrastruktur internal, sistem pusat, maupun kanal penjualan langsung mereka tidak mengalami kompromi keamanan. Tim keamanan internal mereka, Ledger Donjon, terus menelusuri di titik mana manipulasi fisik tersebut terjadi dalam rantai distribusi.
Sebuah laporan dari penyelidik onchain, Specter, menyebutkan adanya potensi kerugian mencapai USD 86 juta atau sekitar Rp1,35 triliun akibat insiden ini. Pihak Ledger menyatakan angka tersebut belum terverifikasi secara resmi oleh perusahaan.
Kejadian serupa kini mulai merembet ke wilayah Eropa. MediaMarkt Saturn, salah satu peritel elektronik besar di Jerman, memutuskan menghentikan penjualan produk Ledger baik di toko fisik maupun daring sebagai langkah antisipasi.
Keputusan MediaMarkt diambil setelah seorang pelanggan di Jerman melaporkan temuan perangkat yang telah dimodifikasi. Meski tidak ada dana pengguna yang dilaporkan hilang dalam kasus di Jerman tersebut, tindakan pencegahan tetap dilakukan.
Perangkat keras kripto sendiri merupakan dompet fisik berbentuk stik USB yang menyimpan kunci pribadi aset digital pengguna secara luring atau offline. Penggunaan alat ini selama ini dianggap sebagai metode penyimpanan paling aman dibandingkan dengan dompet bursa daring.
Kompetitor Ledger, Trezor, ikut merespons isu keamanan ini dengan mengubah kebijakan operasional mereka. Perusahaan tersebut menyatakan akan menghentikan seluruh otorisasi pihak ketiga bagi pengecer mulai 1 Januari 2027.
Langkah Trezor disebut sebagai tindakan kehati-hatian untuk menjaga integritas produk di mata konsumen global. Mereka menegaskan sejauh ini belum ada bukti perangkat mereka mengalami modifikasi serupa dengan yang terjadi pada Ledger.
Bagi pemilik perangkat Ledger di Indonesia, perusahaan menyarankan untuk segera memeriksa perangkat dari sumber pembelian yang tidak resmi. Pengguna diminta tetap tenang dan memantau pembaruan informasi resmi dari kanal komunikasi Ledger.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor








