Mastercard Luncurkan Alat Keamanan untuk Deteksi Risiko Transaksi Stablecoin

Mastercard resmi memperkenalkan layanan pemindaian risiko stablecoin untuk membantu lembaga keuangan mendeteksi aktivitas mencurigakan sebelum dana berpindah ke jaringan blockchain.
Inovasi ini memungkinkan perbankan meninjau transaksi aset kripto yang dipatok ke mata uang fiat tersebut lebih awal. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi sulitnya pemulihan dana setelah transaksi terkonfirmasi di buku besar digital.
Layanan yang dinamai Stablecoin Security ini diperkenalkan secara publik pada konferensi Money20/20 USA yang berlangsung Senin lalu. Teknologi ini menggabungkan data pembayaran tradisional dengan analisis blockchain untuk memetakan potensi penipuan, skema pencucian uang, hingga pelanggaran sanksi ekonomi.
Perusahaan seperti Borderless.xyz dan Keyrails telah ditunjuk sebagai mitra awal dalam pengujian sistem tersebut. Mastercard menargetkan ketersediaan layanan ini secara global bagi seluruh institusi finansial pada tahun depan.
Sistem ini bekerja dengan memberikan skor risiko bagi setiap transaksi sebelum penyelesaian akhir dilakukan. Metode tersebut serupa dengan prosedur keamanan yang digunakan bank untuk memantau transaksi mata uang konvensional selama bertahun-tahun.
Tantangan utama dalam penggunaan stablecoin adalah sifat aset tersebut yang bisa berpindah lintas dompet digital secara cepat. Kompleksitas ini sering kali menyulitkan pihak bank untuk memverifikasi profil risiko secara real-time.
Perluasan layanan ini menjadi bagian dari strategi besar Mastercard dalam mendalami pasar aset digital. Langkah ini menyusul akuisisi perusahaan kripto BVNK senilai USD 1,8 miliar atau setara Rp28,3 triliun yang dilakukan pada Agustus lalu.
Selain itu, perusahaan tengah mengembangkan Global Money Platform sebagai jembatan pembayaran berbasis stablecoin bagi sektor bisnis skala besar. Fokus mereka adalah memfasilitasi pengiriman uang lintas negara yang lebih efisien dan aman.
Data dari Standard Chartered memproyeksikan kapitalisasi pasar stablecoin akan mencapai USD 2 triliun atau sekitar Rp31,4 kuadriliun pada tahun 2030. Angka tersebut mencerminkan optimisme meski pertumbuhan pasokan aset digital sempat melambat sepanjang tahun ini.
Peningkatan volume transaksi stablecoin di seluruh dunia kini didorong oleh kebutuhan remitansi yang kian masif. Bagi banyak orang, pengiriman dana antarnegara melalui sistem kripto dianggap jauh lebih murah dibandingkan metode perbankan tradisional.
Integritas keamanan menjadi fokus utama Mastercard agar adopsi aset kripto di kalangan institusi keuangan arus utama dapat berjalan lebih luas. Kepercayaan pengguna dianggap sebagai kunci utama dalam ekosistem pembayaran masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor











