Analisis IHSG: Peluang Penguatan di Tengah Gejolak Konflik Timur Tengah

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diprediksi memiliki peluang untuk kembali menguat pada perdagangan Kamis, 10 September 2026.
Proyeksi ini muncul meskipun pasar saham domestik saat ini sedang menghadapi tekanan jual yang cukup intens akibat sentimen negatif dari eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pada perdagangan Rabu, 9 September 2026, IHSG ditutup melemah tipis sebesar 0,12 persen ke level 6.678,20. Pergerakan negatif ini searah dengan tren bursa Asia yang mayoritas terkoreksi akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak mentah Brent tercatat menyentuh level 100 dolar AS (sekitar Rp1,57 juta) per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI berada di posisi 95 dolar AS (sekitar Rp1,49 juta) per barel. Kenaikan harga komoditas energi ini dipicu oleh serangan Iran terhadap kapal Amerika Serikat dan tanker minyak di kawasan Teluk, yang merupakan balasan atas insiden serangan sebelumnya terhadap kapal milik Iran.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa sentimen global saat ini memicu ketakutan akan inflasi yang lebih tinggi. Kondisi ini kemudian memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga acuannya lebih cepat dari rencana semula.
Nico menambahkan bahwa pelemahan IHSG sebenarnya masih dalam batas wajar dan terkendali. Hal ini didorong oleh pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid pada kuartal III dan IV, meskipun sempat terganggu oleh serangkaian bencana alam di sejumlah daerah.
Sementara itu, analisis teknikal dari riset MNC Sekuritas menunjukkan bahwa IHSG saat ini sedang berada di akhir wave v dari wave (c). Pasar diproyeksikan memiliki area penguatan di rentang 6.736 hingga 6.812, namun pelaku pasar tetap perlu waspada terhadap potensi koreksi ke level 6.643 hingga 6.653.
Level support IHSG diperkirakan berada di angka 6.610 dan 6.561. Di sisi lain, level resistance berada pada kisaran 6.705 serta 6.755.
Beberapa saham layak dicermati, seperti PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) yang sebelumnya menguat 5,33 persen ke level Rp158 dan PT Timah Tbk (TINS) yang naik 4,55 persen ke level Rp4.600. Saham PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) juga terpantau mengalami tekanan jual dengan koreksi 2,61 persen ke level Rp745, namun masih memiliki peluang teknis selama mampu bertahan di atas Rp725.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) turut menarik perhatian dengan kenaikan 3,33 persen ke posisi Rp3.100. Namun, saham ini dinilai rawan koreksi jangka pendek setelah berada di akhir wave [iii] dari wave 3.
Selain sentimen geopolitik, investor di dalam negeri juga tengah menanti rilis data penjualan ritel Indonesia periode Juli 2026. Data ini menjadi perhatian karena pada bulan Juni, penjualan ritel sempat tercatat turun selama tiga bulan berturut-turut.
Secara regional, dinamika bursa Asia masih sangat dipengaruhi oleh perbedaan arah kebijakan di masing-masing negara. Indeks Nikkei dan Hang Seng terpantau melemah, sementara indeks Shanghai serta Kospi justru mampu menunjukkan performa positif di tengah ketidakpastian harga minyak dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor














