Kebangkitan Pasar Asemka: Saat Pedagang Grosir Bersinergi dengan Reseller Online

Menteri Perdagangan Budi Santoso memberikan tanggapan terkait perubahan perilaku belanja yang kini terjadi di kawasan Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat. Pasar yang sebelumnya sempat sepi akibat disrupsi perdagangan digital, kini kembali ramai dikunjungi oleh para pelaku usaha atau reseller online.
Budi menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mendorong pola perdagangan hybrid atau omnichannel bagi pelaku usaha. Strategi ini memungkinkan pedagang tetap mengoperasikan toko fisik sekaligus memanfaatkan kanal digital untuk memperluas jangkauan pasar mereka.
"Kan sering saya sampaikan kita itu kan ada omnichannel ya, hybrid. Jadi temen-temen itu selain belanja online bukan berarti juga meninggalkan offlinenya," ujar Budi di Jakarta, Rabu (9/9/2026). Menurutnya, model bisnis ini tidak terbatas pada pasar tradisional, namun juga berlaku bagi pelaku usaha yang beroperasi sepenuhnya secara daring dari rumah atau gudang.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran pola konsumsi masyarakat yang tidak lagi mempertentangkan antara toko fisik dan platform digital. Sebaliknya, kedua model tersebut kini justru berjalan beriringan membentuk ekosistem ekonomi baru yang saling melengkapi.
Kondisi nyata perubahan ini dapat dilihat langsung di Pasar Asemka, di mana pedagang mulai menikmati geliat aktivitas ekonomi yang pulih dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Kehadiran konten-konten viral di media sosial, khususnya TikTok, menjadi motor utama yang mendatangkan pembeli baru, termasuk dari kalangan Generasi Z.
Nina, salah seorang pedagang di Asemka, mengakui bahwa trafik pembeli meningkat pesat setelah produk yang dijualnya kerap ditampilkan dalam video pendek di media sosial. "Dulu sempat sepi, sekarang mulai ramai lagi sekitar setahun ini, pas banyak konten di TikTok," ungkapnya.
Pernyataan tersebut kontras dengan situasi yang terjadi pada 2023, di mana pedagang Asemka melaporkan penurunan omzet hingga 70 persen karena kalah bersaing dengan harga produk murah di platform daring. Saat itu, banyak pedagang yang merasa terancam oleh masifnya penetrasi penjualan melalui platform media sosial.
Kini, media sosial justru berfungsi sebagai etalase yang mengarahkan calon konsumen untuk datang langsung ke toko. Barang-barang yang sedang tren seperti aksesori rambut, mainan, hingga produk gaya hidup membuat pembeli datang untuk mengecek kualitas barang sekaligus mencari harga grosir.
Amira, seorang reseller bulu mata palsu, membagikan pengalamannya memulai usaha setelah menemukan pemasok di Asemka melalui rekomendasi konten di TikTok. Ia memanfaatkan selisih harga dari pasar grosir untuk kemudian melakukan pengemasan ulang dan menjualnya kembali di platform digital.
Meski tren ini terlihat positif bagi perputaran ekonomi di tingkat grosir, pemerintah belum dapat memaparkan data spesifik mengenai besaran kontribusi reseller online terhadap volume perdagangan nasional saat ini. Budi menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pendataan lebih lanjut terkait angka pastinya.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor








:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379462/original/095287800_1792633034-Khvicha_Kvaratskhelia.jpg)

