Kolapsnya Silicon Valley Bank Soroti Kesenjangan Diskriminasi Pinjaman bagi Pengusaha Minoritas

Keruntuhan Silicon Valley Bank (SVB) pada bulan Maret lalu tak hanya mengguncang pasar keuangan, tetapi juga kembali mengangkat isu diskriminasi pinjaman yang telah lama membelenggu para pengusaha minoritas di Amerika Serikat.
Venture capitalist Arlan Hamilton sigap bertindak ketika nasabah SVB berbondong-bondong menarik miliaran dolar. Ia segera membantu para pendiri startup dari kalangan minoritas yang dilanda kepanikan karena khawatir kehilangan akses dana untuk gaji karyawan.
Hamilton, seorang wanita kulit hitam dengan pengalaman bisnis hampir satu dekade, memahami betul terbatasnya pilihan bagi para pendiri startup tersebut. SVB, bagi mereka, dikenal memiliki reputasi melayani komunitas yang kurang terwakili seperti yang dipimpinnya.
Oleh karena itu, kegagalan bank ini telah memicu kekhawatiran dari para pakar industri mengenai praktik diskriminatif dalam pemberian pinjaman perbankan dan kesenjangan permodalan yang terjadi pada masyarakat minoritas.
“Kami sudah berada di rumah yang lebih kecil. Kami sudah memiliki pintu yang reyot dan dinding yang lebih tipis,” kata Hamilton, pendiri dan mitra pengelola Backstage Capital, merujuk pada pengusaha minoritas. “Ketika badai datang, kami akan terpukul lebih keras.”
Didirikan pada tahun 1983, bank teknologi menengah asal California ini adalah bank terbesar ke-16 di Amerika Serikat pada akhir tahun 2022 sebelum kolaps pada 10 Maret. SVB menyediakan layanan perbankan untuk hampir separuh perusahaan teknologi dan ilmu hayati yang didukung modal ventura di Amerika Serikat.













