Rupiah Melemah Tipis ke Rp 17.512 per Dolar AS pada Perdagangan 10 September

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan Kamis, 10 September 2026.
Mata uang Garuda tercatat melemah 1 poin atau sekitar 0,01 persen, membawa posisi rupiah ke level Rp 17.512 per dolar AS.
Data dari Bloomberg menunjukkan pergerakan ini terpantau di pasar spot exchange pada pukul 09.05 WIB. Kondisi ini sedikit kontras dengan performa hari sebelumnya di mana rupiah sempat ditutup menguat signifikan sebesar 121 poin atau 0,69 persen di posisi Rp 17.511 per dolar AS.
Kondisi pasar valuta asing global saat ini sedang diwarnai dengan tren pelemahan indeks dolar AS yang turun 0,05 persen ke posisi 99,771.
Dolar AS sendiri sebenarnya sedang menghadapi tekanan berat di pasar global. Mata uang Negeri Paman Sam ini sempat mendekati level terendah dalam tujuh bulan terakhir jika dikomparasikan dengan yen Jepang.
Tekanan terhadap dolar AS muncul di tengah harga minyak dunia yang masih tertahan di atas US$ 100 per barel (sekitar Rp 1,57 juta per barel). Harga minyak yang tetap tinggi ini dipicu oleh eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok energi global.
Selain faktor geopolitik, para pelaku pasar kini menaruh perhatian besar pada rencana pertemuan bank sentral yang dijadwalkan pekan depan. Dinamika pasar dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi mengenai arah kebijakan Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat dan Bank of Japan.
Yen Jepang secara terpisah mencatatkan penguatan sebesar 0,23 persen ke level 153,65 per dolar AS. Penguatan ini meneruskan tren positif setelah sebelumnya sempat menyentuh angka 152,89.
Kevin Ford, ahli strategi valuta asing (FX) dan makro di lembaga riset Convera, mengungkapkan pandangannya terkait fenomena ini. Convera merupakan perusahaan global yang menyediakan jasa pembayaran serta manajemen risiko mata uang bagi pelaku bisnis internasional.
Menurut Ford, terdapat faktor kebijakan yang secara efektif membatasi ruang gerak dolar AS. Ia menyebut bahwa premi kebijakan Amerika Serikat menahan kenaikan dolar, sementara yen mendapatkan sokongan kuat dari Departemen Keuangan AS.
Ford menambahkan bahwa terdapat ketidakselarasan sesaat antara ekspektasi suku bunga dan harga minyak. Kondisi tersebut berbeda dengan pola perdagangan pada Maret lalu di mana harga minyak sempat memberikan dukungan bagi penguatan dolar AS.
Di sisi lain, dolar AS justru mencatatkan penguatan tipis 0,11 persen terhadap franc Swiss ke posisi 0,8105. Kenaikan tipis ini terjadi setelah sebelumnya mata uang Amerika Serikat tersebut sempat mengalami pelemahan di pasar global.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)











