
Kehadiran iPhone Duo di pasar ponsel global memicu gelombang inovasi baru bagi ekosistem Android melalui pengembangan aplikasi pihak ketiga. Salah satu fitur unggulan yang mulai diadaptasi adalah Tent Mode atau mode tenda yang kini hadir melalui aplikasi bernama Foldy.
Aplikasi ini memungkinkan pengguna ponsel lipat Android menikmati tampilan informasi yang estetik saat perangkat diletakkan dalam posisi setengah terlipat.
Sebelumnya, fitur serupa yang dikenal sebagai StandBy di ekosistem Apple memungkinkan layar menampilkan jam, kalender, atau foto saat ponsel sedang tidak digunakan. Meskipun beberapa produsen seperti Motorola melalui seri Razr telah mencoba menerapkan konsep Always-on Display yang serupa, fungsionalitasnya sering kali masih terbatas. Google juga menyediakan fitur serupa pada lini Pixel, namun kemampuan tersebut biasanya hanya aktif saat perangkat sedang dalam proses pengisian daya.
Foldy hadir untuk menjembatani celah tersebut dengan menawarkan kontrol yang lebih luas bagi pengguna Android. Pengembang aplikasi ini memastikan bahwa perangkat dapat mendeteksi posisi tubuh ponsel secara otomatis saat diletakkan menyamping.
Pengguna dapat mengunduh aplikasi ini secara gratis, namun diperlukan biaya tambahan untuk membuka seluruh fitur premiumnya. Biaya berlangganan dipatok sebesar 90 sen (sekitar Rp14.600) per bulan atau pilihan sekali bayar seumur hidup senilai USD 9 (sekitar Rp146.000). Harga tersebut memberikan akses ke berbagai personalisasi panel informasi yang lebih mendalam dan fungsional untuk penggunaan harian.
Dalam uji coba pada perangkat Galaxy Z Fold 8, aplikasi ini dengan cepat mengubah mode tenda menjadi hub dua panel yang berguna. Layar dapat menampilkan tanggal dan waktu di satu sisi, sementara sisi lainnya menunjukkan data dari kalender pengguna.
Kemampuan yang paling menonjol dari Foldy adalah dukungannya terhadap berbagai widget Android di dalam panel informasi tersebut. Hal ini membuka akses cepat untuk mengontrol perangkat rumah pintar melalui Google Home atau mengelola pemutar musik tanpa harus membuka ponsel sepenuhnya. Pengguna tidak perlu lagi melakukan navigasi yang rumit hanya untuk mematikan lampu atau mengganti lagu saat ponsel sedang disandarkan di atas meja.
Foldy juga memiliki fitur pelatihan yang memungkinkan aplikasi mengenali kapan harus aktif berdasarkan sudut lipatan layar. Sensor pada ponsel akan mendeteksi kondisi perangkat yang setengah terbuka dan segera mengaktifkan klon fitur StandBy tersebut.
Selain Foldy, pengembang Android juga merilis aplikasi lain bernama Foldman yang memberikan sentuhan nostalgia pada perangkat layar lipat. Aplikasi ini mengubah tampilan ponsel menjadi pemutar kaset klasik bergaya Walkman saat layar ditekuk sebagian. Foldman menawarkan keunggulan berupa integrasi langsung dengan YouTube Music, sebuah fitur yang belum tentu ditemukan pada aplikasi serupa di platform lain.
Munculnya aplikasi-aplikasi ini menunjukkan tren positif di mana pengembang Android bereaksi cepat terhadap standar baru yang dibawa oleh Apple. Persaingan ini justru menguntungkan konsumen karena ketersediaan aplikasi yang dioptimalkan untuk layar lipat kini menjadi lebih beragam.
Langkah Apple masuk ke pasar ponsel lipat memberikan dorongan bagi para pengembang untuk membangun pengalaman aplikasi yang lebih matang. Sebelum adanya iPhone Duo, adaptasi aplikasi untuk layar lipat cenderung lambat dan kurang memiliki konsistensi visual.
Interaksi antara dua ekosistem besar ini mempercepat evolusi antarmuka pengguna pada perangkat lipat di masa depan. Pengguna Android kini tidak perlu menunggu pembaruan sistem operasi resmi untuk mencicipi fitur-fitur inovatif yang sedang populer.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor