Tren Beef Tallow Jadi Skincare Alami, Ini Risiko di Balik Klaim Pelembab

Tren penggunaan lemak sapi atau beef tallow sebagai pelembab alami kini kian populer di berbagai platform media sosial dunia. Produk ini sering diklaim mampu mengatasi permasalahan kulit mulai dari kekeringan ekstrem hingga eksim.
Proses pembuatannya melibatkan teknik memasak, melelehkan, dan memurnikan lemak sapi hingga menjadi zat berwarna putih pekat. Saat mencapai suhu ruang, teksturnya berubah menjadi padat menyerupai balm sehingga mudah diaplikasikan ke permukaan kulit.
Beberapa produsen bahkan menambahkan madu ke dalam ramuan tersebut dengan harapan mampu melembutkan kulit sekaligus mempercepat proses penyembuhan luka. Namun, perlu diketahui bahwa tren perawatan wajah berbahan alami ini belum mengantongi izin atau regulasi resmi dari Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat.
FDA merupakan badan pemerintah Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas pengawasan keamanan produk makanan, obat-obatan, hingga kosmetik bagi masyarakat luas.
Hingga saat ini, belum tersedia standar baku terkait proses pemurnian lemak sapi yang benar-benar terjamin aman untuk digunakan pada kulit manusia. Sebuah tinjauan ilmiah yang terbit pada 2024 mencatat bahwa lemak sapi memang mengandung vitamin A, D, E, K, B12, serta trigliserida seperti asam oleat.
Nutrisi tersebut memang berpotensi meningkatkan hidrasi pada kulit dan menjaga kelembapan bagi penderita eksim dalam jangka waktu tertentu. Sayangnya, uji coba laboratorium pada hewan seperti kelinci dan tikus menunjukkan bahwa tallow justru sangat mengiritasi mata dan jaringan kulit.
Penggunaan lemak sapi tanpa pengawasan regulasi ketat membawa risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh bagi penggunanya. Sebagian orang bahkan bisa mengalami reaksi alergi sensitif pada kulit meski tidak memiliki riwayat alergi terhadap konsumsi daging sapi secara oral.
Sifat fisiknya yang mudah mencair menjadi minyak saat terkena suhu tubuh menyimpan risiko tersendiri, yakni potensi menyumbat pori-pori atau bersifat komedogenik. Residu berminyak yang tertinggal pada permukaan kulit memudahkan bakteri dari lingkungan menempel dan berkembang biak.
Hal ini berisiko memicu timbulnya jerawat atau breakout yang cukup mengganggu penampilan. Pengaplikasian lemak sapi ke wajah juga diketahui dapat meningkatkan sensitivitas terhadap paparan sinar matahari, yang secara langsung memicu risiko sunburn atau kulit terbakar.
Ada pula potensi interaksi negatif lainnya yang dikhawatirkan dapat memperburuk kondisi peradangan atau penyakit kulit yang sudah diderita sebelumnya. Mengingat minimnya riset klinis pada subjek manusia, tenaga medis profesional belum merekomendasikan penggunaan bahan ini untuk perawatan harian.
Para ahli justru menyarankan masyarakat untuk tetap memilih produk yang telah melalui serangkaian uji laboratorium guna menjaga kesehatan barrier kulit secara optimal. Riset mendalam masih diperlukan untuk membuktikan efektivitas maupun keamanan nyata dari penggunaan beef tallow sebagai metode perawatan kulit jangka panjang.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor














