Tim SAR Perpanjang Operasi Pencarian Delapan Korban Hilang di Selat Sunda

Tim SAR gabungan resmi memperpanjang masa operasi pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal Arupadhatu I yang hilang kontak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda.
Keputusan ini diambil setelah operasi pencarian selama tujuh hari belum membuahkan hasil, sehingga masa tugas tim lapangan ditambah selama tiga hari ke depan terhitung sejak Selasa (15/9/2026).
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menyatakan bahwa langkah ini merupakan tindak lanjut atas permohonan pihak keluarga serta koordinasi intensif dengan Pemerintah Provinsi Banten. Perpanjangan durasi pencarian tersebut didasarkan pada ketentuan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, yang memungkinkan penambahan waktu operasi atas permintaan pihak terkait.
Memasuki hari kedelapan, cakupan area penyisiran diperluas hingga mencapai 3.962 mil laut persegi yang terbagi ke dalam lima sektor utama. Data teknis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjadi acuan utama dalam menentukan titik koordinat pencarian.
Tim SAR gabungan mengerahkan sebanyak 20 unit kapal laut dan melibatkan 647 personel dari berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI, dan Polairud Polda Banten. Selain kekuatan laut, pihak otoritas kini mengerahkan dua unit drone thermal untuk melakukan pemantauan udara yang lebih presisi di area-area yang sulit dijangkau.
Penyisiran kini tidak lagi terbatas pada perairan Banten, namun juga mulai merambah hingga ke pesisir Provinsi Bengkulu dan sekitar Pulau Enggano. Perluasan wilayah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap pola pergerakan arus laut yang dimungkinkan membawa korban atau material kapal menjauh dari titik koordinat awal.
Operasi ini juga didukung oleh kolaborasi antara Kantor SAR Banten dengan Kantor SAR Bengkulu untuk mengamankan wilayah perbatasan perairan di utara Selat Sunda. Sinergi antarwilayah diharapkan mampu mendeteksi keberadaan petunjuk penting terkait nasib kapal Arupadhatu I yang hilang saat melakukan peliputan.
Sementara itu, penyisiran darat di sejumlah pulau terdekat seperti Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang telah diselesaikan dengan hasil nihil. Pencarian darat juga telah mencakup seluruh garis pantai dari wilayah Carita hingga Anyer guna memastikan tidak ada tanda-tanda korban yang terdampar.
Di sisi lain, tim SAR mengakui adanya kendala teknis dalam melakukan penyelaman di lokasi kejadian. Ketiadaan titik koordinat pasti mengenai posisi tenggelamnya kapal menjadi hambatan utama bagi tim penyelam untuk melakukan operasi di kedalaman perairan Selat Sunda yang memiliki arus bawah cukup kuat.
Sebelumnya, tim udara sempat melakukan pemantauan menggunakan helikopter HR-3604 selama dua jam menyusuri area pencarian. Namun, hingga saat ini belum ditemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun serpihan badan kapal yang dapat menjadi bukti otentik di lapangan.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)










