Jejak Kelam Skandal Finansial Klub Besar: Dari Juventus hingga Manchester City

Dunia sepak bola profesional kerap diguncang oleh praktik pelanggaran regulasi yang mengguncang fondasi integritas kompetisi.
Skandal finansial dan manipulasi aturan bukan sekadar catatan minor dalam sejarah, melainkan peristiwa yang mengubah peta kekuatan klub secara drastis. Beberapa kesebelasan raksasa bahkan harus menelan pil pahit berupa sanksi berat hingga ancaman eksistensi akibat ulah di luar lapangan hijau.
Juventus, Leeds City, dan Glasgow Rangers menjadi saksi bagaimana sebuah institusi sepak bola bisa terperosok ke jurang kehancuran. Kini, bayang-bayang serupa menghantui Manchester City, memicu diskusi luas mengenai kepatuhan klub terhadap aturan main yang ketat.
Skandal Calciopoli tahun 2006 menjadi noda hitam paling signifikan dalam sejarah sepak bola Italia. Kasus ini menyeret nama-nama besar seperti Juventus, AC Milan, Fiorentina, hingga Lazio ke dalam pusaran penyelidikan hukum yang intens.
Penyelidikan bermula dari kecurigaan akan praktik doping sistematis sebelum akhirnya mengarah pada penyadapan percakapan telepon milik manajer umum Juventus, Luciano Moggi. Terungkap bahwa Moggi bersama CEO Antonio Giraudo berupaya memengaruhi penunjukan wasit selama musim 2004/05 dan 2005/06.
Praktik manipulasi ini berujung pada pencabutan gelar juara Juventus serta degradasi paksa yang mengguncang basis suporter mereka di seluruh dunia. Sanksi ini menjadi pelajaran berharga bahwa tidak ada klub yang kebal hukum saat integritas kompetisi diperdagangkan.
Di Inggris, sejarah mencatat kehancuran Leeds City pada awal abad ke-20 akibat skandal pembayaran ilegal kepada pemain. Kasus ini terbongkar setelah bek Charlie Copeland melaporkan adanya aliran dana tidak sah selama masa perang yang melanggar aturan Liga Sepak Bola saat itu.
Karena gagal menyerahkan dokumen keuangan yang diminta otoritas liga, Leeds City harus menerima hukuman terberat. Klub dikeluarkan dari Divisi Dua, seluruh catatan pertandingan dihapuskan, serta lima pejabat klub dijatuhi larangan beraktivitas dalam sepak bola seumur hidup.
Klub tersebut akhirnya lenyap dari peredaran, namun gairah sepak bola di Stadion Elland Road tetap hidup melalui kelahiran Leeds United. Klub baru ini berdiri dengan bantuan dana sebesar 35.000 Poundsterling (sekitar Rp700 juta) dari Hilton Crowther pada tahun 1920.
Kasus berbeda menimpa Glasgow Rangers di Skotlandia yang terbelit krisis finansial akibat skema Employee Benefit Trusts (EBT). Manajemen di bawah kendali Sir David Murray menggunakan skema tersebut untuk membayar pemain bintang seperti Tore Andre Flo dan Ronald de Boer di luar gaji resmi.
HMRC atau otoritas pajak Inggris menganggap pembayaran ini sebagai penghasilan yang wajib dikenai pajak, bukan pinjaman seperti pembelaan klub. Akibat penalti dan akumulasi bunga, Rangers menanggung beban utang mencapai 49 juta Poundsterling (sekitar Rp980 miliar).
Beban finansial yang masif tersebut membawa dampak domino pada stabilitas operasional klub dalam jangka panjang. Pengalaman pahit ini memperlihatkan bahwa transparansi keuangan merupakan pilar yang menentukan keberlangsungan masa depan sebuah klub profesional di panggung sepak bola modern.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor














